JAKARTA – Pemerintah menegaskan keseriusan untuk mencapai target lifting minyak satu juta barel dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari pada 2030.

Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, mengatakan produksi satu juta barel per hari (bph) dan gas 12 ribu MMscfd memang target cukup berat, tapi berbagai elemen di pemerintah terus berupaya meggali berbagai cara agar target itu bisa terwujud.

“Pemerintah sangat serius tentang target¬† 2030 di mana produksi minyak satu juta barel dan gas 12 miliar standar kaki kubik.¬† Kita bekerja dari hari ke hari, minggu ke minggu untuk bisa mendetailkan program ini,” kata Tutuka, Jumat (29/1).

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah telah memilih sejumlah lapangan yang akan ditingkatkan produksinya dan teknologi yang paling tepat untuk digunakan. “Kami bergerak dari satu strategi ke strategi lainnya. Kami sadar betul perlu banyak strategi untuk mencapai target lifting migas ini,” kata Tutuka.

Strategi yang digunakan, antara lain mempertahan produksi saat ini agar penurunannya tidak drastis. Ini tidak mudah karena sebagian besar lapangan migas di Indonesia merupakan lapangan tua.

“Produksi minyak kita 705 ribu barel per hari di mana pada saat ini 80% berasal dari lapangan tua dan itu sangat tidak mudah (mengelolanya). Kami sangat mengapresiasi KKKS, termasuk Pertamina yang berupaya keras untuk mempertahankan produksi,” ungkap dia.

Untuk kondisi cadangan dan potensi gas Indonesia, dapat dikatakan lebih baik dibanding minyak. Beberapa proyek gas yang masih terkendala saat ini, diharapkan dapat segera diselesaikan dan bisa berproduksi sesuai target. Misalnya, Blok Masela dan IDD.

Di luar proyek-proyek tersebut, Indonesia masih memiliki cadangan gas yang besar sejak 40 tahun lalu dan hingga saat ini belum dikomersialkan yaitu Blok East Natuna. Apabila dapat diproduksi, diperkirakan dapat menambah lifting sebanyak tiga miliar standar kaki kubik selama 25 tahun.

Namun dia menyadari, untuk memproduksikan gas dari blok tersebut tidak mudah karena kandungan CO2-nya sangat tinggi dan bahkan dapat dikatakan satu-satunya di dunia. Apabila potensi tersebut mampu dimanfaatkan, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan yang tinggi.

“Sesungguhnya Indonesia memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam industri migas ini yaitu sudah 125 tahun. Dan kita perlu tunjukkan kemandirian enegi kita (dengan memanfaatkan potensi migas),” kata Tutuka.

Hampir empat tahun terakhir tidak ada lagi kelanjutan pengembangan Blok East Natuna. Hal ini seiring keputusan ExxonMobil yang sebelumnya merupakan bagian dari konsorsium East Natuna bersama Pertamina dan PTT EP memilih hengkang dan tidak melanjutkan kerja sama. Tidak berapa lama kemudian PTT juga memutuskan keluar dari konsorsium. Alhasil tersisa Pertamina yang kini menjadi andalan untuk mengelola blok yang ditaksir memiliki total cadangan gas sebesar 46 TCF atau empat kali cadangan Blok Masela yang mencapai 10,7 TCF.

Salah satu tantangan berat dalam pengelolaan East Natuna adalah kandungan CO2 yang sangat tinggi mecapai 70%.

Teknologi pemisahan gas ini yang masih belum bisa dikembangkan di dalam negeri sehingga perlu mitra yang sudah berpengalaman untuk lakukan pemisahan CO2.(RI)