JAKARTA – Pemerintah mendorong hilirisasi melalui pembangunan smelter, industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hingga rantai pasok energi baru dan terbarukan (EBT). Kebijakan ini sekaligus menempatkan nikel sebagai komoditas strategis dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang juga merupakan CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan dari 15 komoditas prioritas hilirisasi yang ditetapkan Pemerintah, nikel menempati posisi pertama dengan nilai investasi sebesar Rp365 triliun.

Sebagai informasi, 15 komoditas prioritas hilirisasi dari total 28 komoditas yang dicanangkan untuk dikembangkan dalam empat tahun ke depan, dengan pemetaan lokasi, investor, dan teknologi sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Ketua Dewan Pengawas Indonesian Business Council (IBC), Arsjad Rasjid, menilai, keberhasilan program tersebut bergantung pada kemampuan Indonesia membangun ekosistem investasi yang selaras antara kebijakan pemerintah, kebutuhan industri, dan komitmen keberlanjutan.

Menurut Arsjad, pertanyaan mendasar dari investor asing bukan hanya soal ketersediaan sumber daya alam, tetapi juga kapasitas Indonesia dalam mengelola investasi secara jangka panjang, termasuk kesiapan teknologi, sumber daya manusia (SDM), dan kepastian kebijakan.

“Pertanyaannya selalu kembali pada kemampuan kita dalam mendukung investasi,” ujarnya dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026, Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Dengan potensi cadangan nikel terbesar dunia dan arah kebijakan yang semakin jelas, ia optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam rantai pasok global industri hijau. Arshad menekankan peluang tersebut hanya dapat terwujud jika keputusan yang diambil saat ini konsisten, terukur, dan berpihak pada transformasi jangka panjang.

Data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) tahun 2024 mencatatkan pangsa pasar mixed hydroxide precipitate (MHP) mencapai 82%, nickel matte 70%, dan nickel pig iron (NPI) sebesar 81%. Pasar ekspor nickel matte Indonesia pada 2024 menunjukkan China sebagai tujuan utama dengan volume 186,1 kiloton (kt), diikuti Jepang 90,4 kt, Belanda 13,5 kt, dan Norwegia 6,9 kt. Total volume ekspor nickel matte mencapai 296,9 kt dengan nilai sebesar US$2,97 miliar.

Ekspor produk feronikel dan NPI pada 2024 didominasi China sebesar 8.142,8 kt, disusul India 178,5 kt, Korea Selatan 124,2 kt, Belanda 89,7 kt, serta negara lainnya 92,9 kt. Total volume ekspor feronikel dan NPI mencapai 8.628,2 kt dengan nilai sebesar US$12,60 miliar.

Untuk produk MHP, ekspor pada 2024 tercatat menuju China sebesar 1.361 kt dan Korea Selatan 6,5 kt, dengan total volume mencapai 1.368,14 kt dan nilai ekspor sebesar US$3,44 miliar.(RA)