JAKARTA – Danantara saat ini tengah mendorong pembangunan ekosistem hilirisasi energi primer, termasuk hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai pengganti Liquified Petroleum Gas (LPG). Proyek DME termasuk dalam 18 proyek prioritas yang telah dilakukan pra studi kelayakan dan dokumennya diserahkan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kepada Danantara.
Adapun terkait kebutuhan pasokan batu bara terkait proyek ini, Danantara akan bekerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Namun demikian, proyek DME batal ikut prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking ) bersamaan dengan proyek-proyek hilirisasi lainnya pada Jumat (6/2/2026).
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menjelaskan, proyek DME awalnya memang ikut dalam daftar 18 proyek hilirisasi yang bakal digarap oleh Pemerintah. Namun, proyek batal ikut fase 1 karena masih memerlukan kajian lebih lanjut, terutama tentang kesiapan teknologi yang bakal digunakan.
“Insya Allah mudah-mudahan yang DME akan segera kita announce (umumkan) dalam 1-2 bulan ini, mungkin 1 bulan ya, 1 bulan ini akan kita announce mengenai groundbreaking untuk DME di Bukit Asam,” ujarnya.
Pemerintah menginisiasi proyek gasifikasi batu bara menjadi DME untuk ketahanan energi, melibatkan perusahaan seperti PT Bukit Asam Tbk.
Sebelumnya, proyek DME sempat tersendat setelah perusahaan pengolahan gas dan kimia asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc., mundur dari dua proyek hilirisasi batu bara di Indonesia. Tingginya harga batu bara dinilai membuat proyek tersebut tidak lagi ekonomis.
Bisman Bakhtiar, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), menilai potensi DME Indonesia cukup besar karena cadangan batu bara kalori rendah melimpah, apalagi diperlukan untuk kebutuhan substitusi LPG impor sangat yang tinggi. Ia menyebut dari sisi kebijakan, DME selaras dengan agenda hilirisasi dan ketahanan energi nasional.
“Kendala terbesar ada pada kesiapan dan keekonomian teknologi, termasuk efisiensi proses dan biaya produksi yang mahal, dan masih lebih mahal dibanding LPG impor. Selain itu, kepastian offtaker, skema insentif fiskal, dan jaminan harga jual masih menjadi sesuatu yang perlu dipastikan,” ujar Bisman.
Bisman mengatakan dari sisi finansial memang berat, proyek DME membutuhkan investasi besar dan jangka panjang, sehingga sulit jika tidak didukung investor luar. “Sama juga aspek SDM (sumber daya manusia) dan teknologi dalam negeri masih sangat terbatas, jadi masih perlu penguatan. Namun hal ini bisa dikejar dalam waktu yang cepat jika ada dana,” ujarnya.
Bisman mengatakan peluang PTBA relatif cukup besar karena menguasai cadangan batu bara yang sesuai untuk gasifikasi dan statusnya sebagai sebagai BUMN juga merupakan nilai kelebihan. “Namun, tetap bergantung pada dukungan pemerintah dalam bentuk penjaminan proyek, insentif, serta kepastian pasar DME jangka panjang,” katanya.
Proyek hilirisasi batu bara menjadi bagian dari strategi jangka panjang PTBA. Hilirisasi energi dan utilitas merupakan salah satu dari empat pilar bisnis perusahaan hingga 2029, termasuk pengembangan DME.
Beberapa proyek yang akan digarap PTBA untuk mendukung hilirisasi, diantaranya adalah proyek coal to artificial graphite dan anode sheet untuk ekosistem kendaraan listrik, serta coal to asam humat untuk kebutuhan pupuk. Adapun pada fase validasi komersial, perseroan mengembangkan coal to DME, coal to synthetic natural gas (SNG), coal to methanol, dan coal to ammonia.
Melalui diversifikasi ini, PTBA menargetkan peningkatan volume produksi hingga 100 juta ton per tahun, dari posisi saat ini sekitar 40 juta ton. Perseroan juga meyakini konversi batu bara menjadi produk turunan mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan. DME diproyeksikan menghasilkan nilai hingga 4,3 kali lipat dibanding batu bara mentah, SNG sebesar 5,7 kali, methanol 4,7 kali, dan ammonia 4,8 kali.
Selain DME, perseroan juga akan menggarap proyek coal to artificial graphite yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga nuklir. Proyek coal to asam humat yang dikembangkan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM), diproyeksikan mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga dua kali lipat melalui penggunaan pupuk yang lebih efisien. Proyek percontohan ini ditargetkan rampung awal tahun depan.
Adapun proyek coal to SNG digarap bersama Perusahaan Gas Negara untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan gas industri pada 2028. Sementara coal to methanol dinilai memiliki pasar lebih stabil dan peluang industri turunan yang lebih luas. Proyek ammonia disiapkan sebagai bahan baku pupuk.
PTBA juga menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap untuk memasok listrik bagi anggota holding tambang MIND ID seperti Antam dan Timah, dengan pasokan batu bara internal. Perseroan turut mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya di area reklamasi tambang, ruas jalan tol, hingga untuk kebutuhan pertanian di wilayah tanpa irigasi.(RA)




Komentar Terbaru