JAKARTA – Kasus kontaminasi Cesium-137 di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten pada 2025 ternyata bermula dari temuan yang jauh dari lokasi – yakni udang beku ekspor Indonesia yang terdeteksi radioaktif di Amerika Serikat.

Fakta ini diungkap Wakil Menko Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, dalam forum Capacity Building Budaya Keselamatan Nuklir di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (26/10). Kasus Cikande menjadi alarm keras lemahnya pengawasan nuklir nasional.

“Bagaimana kemudian BRIN dan Bapeten bisa menggagas instrumen untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi di lapangan. Kesenjangan tersebut menyulitkan kita dalam melakukan penanganan apabila kejadian serupa kembali terulang,” ujar Hanif.

Dari penelusuran udang tersebut, BRIN dan Bapeten melakukan penyisiran dengan detektor radiasi dan menemukan fakta mengejutkan: kontaminasi tidak hanya di pabrik pengolahan udang, tapi menyebar ke 22 lokasi, bahkan hingga ke sistem ventilasi dan saluran udara.

Dugaan kuat, sumber radioaktif berasal dari emisi peleburan logam yang menggunakan besi bekas (scrap) yang terkontaminasi sumber radioaktif tak terawasi.

Dampaknya masif. Pemerintah harus mengumpulkan lebih dari 1.300 ton material terkontaminasi yang hingga kini masih menjadi tantangan karena keterbatasan fasilitas penyimpanan aman. Sebanyak 71.000 kendaraan keluar-masuk kawasan diperiksa dengan Radiation Portal Monitor (RPM), 11 di antaranya positif terkontaminasi. Lebih dari 5.500 warga sekitar juga harus menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.

Hanif mengakui ada gap regulasi serius: belum jelasnya pembagian kewenangan, penanganan material radioaktif, hingga siapa yang menanggung biaya darurat nuklir.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah kini mewajibkan seluruh industri peleburan besi, baja, dan nikel berbahan baku scrap memasang detektor radiasi dan sistem pemantauan emisi CEMS.

Pembelajaran ini menjadi krusial, mengingat pemerintah tengah mendorong pengembangan energi nuklir sebagai sumber energi nasional. Tanpa sistem keselamatan yang terintegrasi, kasus seperti Cikande bisa terulang dengan skala lebih besar.(RA)