JAKARTA – PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) mendorong pemanfaatan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan 1 dan Asahan 3 untuk memenuhi kebutuhan energi smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Namun, rencana tersebut bergantung pada kesiapan jaringan transmisi 500 kilovolt (kV) untuk menjaga kecukupan pasokan listrik di Sumatera Utara.
Arif Haendra, Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) menjelaskan, di sepanjang aliran Sungai Asahan terdapat sejumlah pembangkit listrik tenaga air, termasuk PLTA Asahan 1, Asahan 2, dan Asahan 3. PLTA Asahan 2 terdiri atas beberapa unit pembangkit, termasuk PLTA Sibura-bura dan PLTA Tangga.
“Asahan 1 dan Asahan 3 ini untuk PLN, masing-masing 180 megawatt (MW). Di RUPTL yang baru, PLN mengizinkan untuk menggunakan PLTA Asahan 1 dan 3 itu untuk smelter,” ujar Arif disela media gathering INALUM, Senin malam (26/10).
Menurut dia, pemanfaatan listrik dari kedua pembangkit tersebut penting untuk mendukung produksi aluminium dengan energi hijau. Pasalnya, persyaratan penggunaan energi hijau mengharuskan pasokan listrik berasal langsung dari sumber energi terbarukan tanpa tercampur dengan sumber energi lain.
“Kenapa harus masuk ke situ? Karena syarat supaya green itu tidak bisa mengambil dari grid. Kalau dari grid, nanti Scope 3, tetapi harus Scope 1, langsung tidak ada campur,” jelasnya.
Meski demikian, pemanfaatan listrik PLTA Asahan 1 dan Asahan 3 untuk kebutuhan smelter berpotensi mengurangi pasokan listrik bagi sistem kelistrikan Sumatera Utara. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, diperlukan pasokan pengganti dari Sumatera Selatan.
Direktur Pengembangan Bisnis INALUM tersebut mengatakan, pasokan listrik dari Sumatera Selatan masih menunggu penyelesaian jaringan transmisi 500 kV yang menghubungkan kedua wilayah.
“Memang problemnya, kalau itu dikeluarkan, diambil oleh INALUM, maka listrik Sumatera Utara akan kurang. Harus disuplai dari Sumatera Selatan. Sumatera Selatan ini menunggu jaringan 500 kV masuk,” katanya.
Dia berharap pembangunan jaringan transmisi tersebut dapat dipercepat sehingga tersambung pada 2029, lebih awal dari perkiraan sebelumnya pada 2031 atau 2032.
“Ini yang kita tunggu. Tidak 2031 atau 2032, kita harapkan 2029 sudah tersambung. Sehingga pada saat kita akan menggunakan listrik untuk smelter dari Asahan 1 dan 3, Sumatera Utara juga tetap ter-cover,” ujarnya.





Komentar Terbaru