JAKARTA – Pemerintah mengakui peningkatan konsumsi BBM Pertalite cukup signifikan pasca adanya kenaikan BBM RON 92 beberapa waktu lalu. Tingginya konsumsi Pertalite sampai harus membuat pemerintah mempertimbangkan untuk menambah kuota BBM dengan RON 90 tersebut.

Bahlil Lahadalia, Menteri Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan ada indikasi jelas adanya perpindahan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite yang jadi salah satu faktor utama melonjaknya konsumsi Pertalite.

“Saya akan melakukan exercise nanti di akhir bulan ini ya. Tapi memang ada terjadi peningkatan dibandingkan dengan 2025 ya. Ada kenaikan, karena ada kenaikan pasti akan terjadi penambahan kuota karena ada shifting kan, ada shifting dari RON 92 ke RON 90. Sebagian ada shifting, karena ada shifting pasti kita akan melakukan penyesuaian,” ungkap Bahlil di Kementerian ESDM, Jumat (23/10).

Pada tahun ini, dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 kuota Pertalite ditetapkan sebesar 29.267.947 kiloliter (KL), turun 6,28% dibandingkan kuota 2025 yang mencapai 31.230.017 KL.

Peningkatan konsumsi Pertalite juga terjadi di tengah persoalan antrean dan gangguan pelayanan BBM di sejumlah daerah. Ombudsman RI pada pertengahan Oktober melaporkan adanya gangguan layanan BBM di 11 provinsi, termasuk Bali, Papua Barat, Banten, Kalimantan Barat, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Jawa Barat.

Di sejumlah wilayah, antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga ratusan meter. Waktu tunggu pengisian BBM di Sumatra Barat bahkan mencapai dua hingga tiga jam, sedangkan antrean Pertalite di sejumlah lokasi di Sulawesi Utara mencapai 300–500 meter. Ombudsman juga menerima laporan kekosongan stok Pertalite maupun Solar di sejumlah SPBU.