JAKARTA – Pemerintah tidak mau pertumbuhan 5,45% di Semester I-2026 berhenti di situ. Target selanjutnya lebih ambisius: 6% di tahun 2027. Kuncinya, menurut Kemenko Perekonomian, ada pada dua mesin yang harus jalan bareng.

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyebutnya sebagai twin engine: transisi energi dan pembangunan digital.

“Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Haryo, (4/10).

Tanpa dua mesin ini, pertumbuhan tidak akan kompetitif secara global. Logikanya sederhana: investasi butuh listrik hijau yang andal, dan industri modern butuh infrastruktur digital yang cepat.

Untuk mencapai 6%, investasi nasional harus ngebut tumbuh 8-9%. Artinya butuh modal Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.

Itulah mengapa pemerintah kejar target listrik raksasa. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kapasitas pembangkit harus mencapai 100 GW peak berbasis EBT. Ini untuk menopang kebutuhan listrik nasional yang diprediksi tembus 700-800 TWh di tahun 2030.

Fondasinya sudah disiapkan lewat pembangunan jaringan transmisi 47.758 kilometer-sirkuit yang akan mengaliri industri dan data center. Di sisi pemerataan, program Listrik Desa ditargetkan menjangkau 4.390 lokasi di 2026 agar rasio elektrifikasi di atas 99%.

Mesin kedua, hilirisasi mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan tembaga, juga dipacu dengan energi bersih. Nilai tambahnya tidak main-main, ekosistem kendaraan listrik saja diproyeksi melipatgandakan nilai hingga 67 kali lipat di tengah permintaan global USD 5,91 triliun pada 2045.

Didukung skema pembiayaan hijau seperti green bonds dan JETP, serta penyiapan SDM vokasi, pemerintah optimistis ini adalah golden moment Indonesia untuk tidak hanya jadi penonton, tapi tuan rumah transisi energi global.(RA)