JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT Jindi South Jambi B membahas rencana pengembangan Lapangan BBR yang mencakup Bugil, Bungkal, dan Rayun. Pengembangan lapangan tersebut ditargetkan mampu menghasilkan produksi gas hingga 200 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) saat puncak produksi nanti.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas mengatakan, pembahasan pengembangan Lapangan BBR telah selesai dilakukan bersama manajemen PT Jindi South Jambi B. Selanjutnya, rencana pengembangan tersebut akan segera diajukan dalam bentuk Plan of Development (PoD) kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Dalam rencana pengembangannya, Lapangan BBR akan mencakup pengeboran 16 sumur pengembangan serta lima kegiatan re-entry pada sumur eksplorasi. Selain itu, akan dibangun infrastruktur pipa serta fasilitas pemisahan karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).
Tantangan utama pengembangan lapangan tersebut adalah tingginya kandungan CO2 dan H2S pada gas yang diproduksikan. Kandungan CO2 tercatat mencapai sekitar 51,2%, sementara kandungan H2S juga tergolong cukup tinggi sehingga membutuhkan fasilitas pengolahan khusus.
“Pengembangan Lapangan BBR berupa pemboran 16 sumur pengembangan, lima re-entry sumur eksplorasi, pembangunan pipa dan pemisahan CO2 dengan kandungan 51,2% CO2 dan H2S yang cukup tinggi,” jelas Djoko dalam keterangannya, Senin (5/10).
Meski membutuhkan biaya investasi yang besar untuk proses pemisahan CO2 dan H2S, Lapangan BBR diproyeksikan memberikan tambahan pasokan gas domestik dalam jumlah signifikan.
Djoko menyebutkan, produksi gas dari lapangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 200 MMSCFD pada saat produksi puncak. “Lapangan ini akan memproduksi gas pada peak-nya sebesar 200 MMSCFD,” katanya.
Namun, tingginya biaya pengolahan gas membuat harga gas dari Lapangan BBR pada tahap awal diperkirakan relatif tinggi. Meski demikian, harga tersebut masih kompetitif jika dibandingkan dengan biaya gas yang bersumber dari LNG.
“Dikarenakan biaya yang cukup besar untuk memisahkan CO2 dan H2S tersebut, maka pada tahap awal harga gas cukup tinggi, namun masih lebih murah dibanding gas yang berasal dari LNG,” ujar Djoko.
Seiring berjalannya waktu dan setelah melewati 2040, harga gas dari Lapangan BBR berpotensi mengalami penyesuaian sehingga dapat mencapai tingkat harga yang setara dengan harga gas bumi tertentu (HGBT).
“Kemudian setelah tahun 2040, harga gas dapat disesuaikan hingga mencapai harga yang sama seperti harga HGBT,” tutup Djoko.





Komentar Terbaru