JAKARTA – Harga minyak kembali dibayangi sentimen geopolitik. Di awal perdagangan Senin, harga minyak acuan melonjak lebih dari 3% akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Kontrak berjangka WTI naik 2,16% ke $102,2 per barel. Sementara Brent menguat 2,14% ke $106,8 per barel.

Lonjakan ini didorong oleh 3 pemicu utama: serangan berskala besar, penundaan diplomasi, dan ancaman terhadap jalur pelayaran krusial.

Eskalasi akhir pekan memicu kepanikan pasar. Kelompok Houthi mengklaim meluncurkan rudal dan drone besar-besaran ke Arab Saudi, termasuk ke pangkalan militer di Sharurah. Media pemerintah Saudi belum mengonfirmasi, namun melaporkan adanya proyektil jatuh di Jazan.

Ini menyusul serangan drone pekan lalu ke Pipa Timur-Barat Saudi yang diluncurkan dari Irak. Pipa vital itu kini ditutup, dan menjadi salah satu jalur ekspor minyak terpenting Saudi di luar Selat Hormuz.

Tidak hanya di darat. UKMTO mengeluarkan peringatan soal kapal yang terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz. AP juga melaporkan kapal kargo Iran diserang di lepas pantai Pulau Qeshm pada Minggu dini hari. Belum jelas apakah itu insiden yang sama.

Sentimen bullish makin kuat setelah Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengumumkan penundaan pertemuan antara negara-negara Teluk dan Iran yang sedianya digelar Senin.

Pertemuan itu krusial karena akan membahas pengelolaan sementara lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Ini adalah pertemuan pertama diplomat senior GCC dengan Iran sejak perang dimulai.

Dengan diplomasi tertunda, pasar kini cemas terhadap keamanan dua choke point minyak dunia: Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Kecemasan makin besar setelah Houthi merebut Pulau Perim di Yaman pekan lalu. Posisi pulau itu strategis untuk memantau dan berpotensi memasang ranjau di jalur Laut Merah.

Kerusakan di Pipa Timur-Barat Arab Saudi menjadi sorotan. Sejumlah stasiun pompa dilaporkan terdampak drone dari Irak.

Para pedagang kini khawatir hingga 4% pasokan minyak global bisa hilang jika pipa tersebut tidak segera dibuka. Besarnya kerusakan masih belum jelas.

“Di tengah upaya diplomasi yang tersendat, serangan yang terus berlanjut, serta besarnya ketidakpastian mengenai volume pasokan prospek pasar minyak tampak semakin bullish,” papar Josh Owens seperti dikutip dari Oilprice.com.

Pasar kini menunggu 2 hal, yakni kecepatan Arab Saudi memulihkan aliran di Pipa Timur-Barat, dan penjadwalan ulang pertemuan GCC-Iran.

Jika kedua hal itu terjadi, tekanan harga mungkin mereda. Namun selama belum ada kejelasan, analis memperkirakan harga minyak berpotensi terus naik karena risk premium geopolitik masih tinggi.(RA)