JAKARTA – PT ESGIN Global Partners (ESGIN), Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI), dan Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC) menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pertanian berkelanjutan, rantai pasok pangan, ekonomi sirkular, teknologi digital lingkungan, green project, climate project, serta pemberdayaan masyarakat.
MoU ditandatangani oleh Yayang Ruzaldy, Vice President PT ESGIN Global Partners; Dr. Marwah Daud Ibrahim, Ketua Koperasi Pangan Cendekia Indonesia (KPCI) – MPP ICMI; serta Rhesa Yogaswara, MM, MF, Ketua Koperasi Kencana Darma Cendekia (KKDC).
Kegiatan Green Education ini terselenggara melalui kolaborasi dengan Bank Mega Syariah sebagai bagian dari sinergi lintas sektor dalam mendorong penguatan pendidikan, literasi ekonomi hijau, ketahanan pangan dan energi, serta pemanfaatan teknologi untuk mempersiapkan talenta masa depan yang lebih adaptif terhadap tantangan keberlanjutan.
Seminar juga menjadi ruang pertemuan antara dunia pendidikan, koperasi, industri, komunitas, sektor keuangan syariah, teknologi, dan pelaku green economy untuk mendorong agar wawasan keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi aktivitas nyata dan memberikan manfaat ekonomi, sosial, serta lingkungan.
Yayang Ruzaldy, Vice President PT ESGIN Global Partners, hadir sebagai Keynote Speaker dengan membawa perspektif mengenai pentingnya Green Education sebagai fondasi dalam mempersiapkan generasi yang akan menjadi bagian dari transformasi menuju ekonomi hijau.
“Talenta masa depan harus memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan bukan dua agenda yang terpisah. Anak-anak kita hari ini akan menjadi entrepreneur, profesional, konsumen, pemimpin, dan pengambil keputusan di masa depan. Karena itu, wawasan ekonomi hijau perlu mulai dibangun sejak mereka masih berada di bangku sekolah,” ujar Yayang Ruzaldy Seminar Nasional “Green Education: Talenta Masa Depan, Talenta Melek Ketahanan Energy dan Pangan, yang Ramah Lingkungan, Bersahabat dengan Alam”, pada Kamis (10/9).
Menurutnya, Green Education perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pemahaman konseptual menuju partisipasi nyata. “Green Education harus bergerak dari knowledge menuju action. Kita perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk melakukan aktivitas nyata, mulai dari mengurangi sampah dan food waste, menghemat energi dan air, menjaga lingkungan, hingga berpartisipasi dalam ekonomi sirkular. Teknologi kemudian dapat membantu mencatat dan mengukur aktivitas tersebut sehingga Green Action dapat berkembang menjadi Measurable Green Impact,” lanjutnya.
Semangat Green Education kemudian diperkuat melalui penandatanganan MoU ESGIN, KPCI, dan KKDC untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang menghubungkan pendidikan, pertanian, koperasi, rantai pasok, pasar, masyarakat, ekonomi sirkular, teknologi lingkungan, serta pengembangan green project.
KPCI akan memperkuat ekosistem hulu melalui jaringan petani, kelompok tani, koperasi, wilayah dan komoditas pertanian potensial, termasuk pengembangan pola kemitraan usaha pertanian dan contract farming.
KKDC akan memperkuat sisi hilir melalui pengembangan rantai pasok, distribusi, pemasaran, akses pasar, jaringan konsumen, serta komunitas. Jaringan tersebut juga membuka peluang untuk membangun sinergi dengan Bank Sampah Unit (BSU) dan berbagai aktivitas ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Sementara itu, ESGIN akan mendukung pengembangan green project dan digital environmental infrastructure, termasuk pemanfaatan platform ESG-in, traceability, pengukuran dampak lingkungan, Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV), serta identifikasi potensi green project, climate project, dan proyek penurunan atau pengurangan emisi gas rumah kaca.
Melalui pembagian peran tersebut, kolaborasi diarahkan untuk membangun sebuah ekosistem yang menghubungkan produksi pertanian berkelanjutan dengan rantai pasok dan pasar, partisipasi masyarakat dengan ekonomi sirkular, serta aktivitas lingkungan dengan teknologi pengukuran dampak.
Ekosistem yang dibangun diarahkan untuk menghubungkan pendidikan hijau dengan aktivitas ekonomi yang memberikan dampak nyata. Pengetahuan mengenai ekonomi hijau melalui Green Education diharapkan mendorong lahirnya berbagai Green Action di lingkungan sekolah, pertanian, koperasi, dan masyarakat.
Aktivitas tersebut selanjutnya dapat didukung teknologi digital untuk pencatatan, pemantauan, traceability, dan pengukuran dampak lingkungan secara lebih terstruktur. Data dan dampak yang dihasilkan dapat menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi kegiatan yang layak dikembangkan menjadi green project.
Pada aktivitas yang memiliki potensi mitigasi perubahan iklim dan memenuhi persyaratan teknis, metodologi, MRV, kelayakan komersial, serta regulasi yang berlaku, pengembangannya dapat dijajaki lebih lanjut menjadi climate project maupun carbon project.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan lingkungan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekologis dan sosial, tetapi juga berpeluang menciptakan green economic value bagi petani, koperasi, komunitas, dunia pendidikan, dunia usaha, serta pemangku kepentingan yang terlibat.
Pertanian menjadi salah satu sektor strategis dalam kolaborasi karena memiliki hubungan langsung dengan ketahanan pangan, penggunaan lahan, air dan energi, biomassa, limbah organik, serta emisi gas rumah kaca.
Melalui jaringan KPCI, Para Pihak dapat melakukan pemetaan wilayah, petani, kelompok tani, koperasi, komoditas, serta praktik pertanian yang berpotensi dikembangkan melalui pendekatan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Pengembangan contract farming dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat hubungan antara petani, kepastian produksi, koperasi, rantai pasok, dan pasar. KKDC selanjutnya dapat mendukung konektivitas hilir melalui jaringan distribusi, konsumen, komunitas, serta akses pasar.
Untuk kegiatan pertanian yang memiliki potensi mitigasi perubahan iklim atau pengurangan emisi, ESGIN dapat mendukung identifikasi dan kajian awal guna menentukan kelayakannya untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai green project, climate project, maupun proyek karbon sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain pertanian, kerja sama juga membuka ruang pengembangan ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, termasuk melalui jaringan Bank Sampah Unit.
Ekosistem tersebut dapat menjadi sarana untuk menghubungkan sekolah, siswa, keluarga, komunitas, koperasi, dan masyarakat dalam aktivitas pemilahan sampah, recycling, pemanfaatan kembali material, pengurangan food waste, serta berbagai kegiatan lingkungan lainnya.
Keterlibatan ESGIN dalam Seminar Nasional Green Education turut diperkuat melalui Muthia Eka Pratiwi, BSU Manager PT ESGIN Global Partners, sebagai pembicara Sesi 4 dengan topik “Program Stimulus yang dapat diimplementasikan di sektor Pendidikan, dengan melibatkan stakeholder pendidikan.”
Program stimulus tersebut diarahkan untuk mendorong agar sekolah dan stakeholder pendidikan tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai Green Education, tetapi dapat terlibat langsung dalam aktivitas lingkungan yang memiliki indikator partisipasi dan dampak.
Teknologi digital menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan ekosistem tersebut. Melalui platform ESG-in dan pengembangan Digital MRV, berbagai aktivitas lingkungan dapat dicatat secara lebih terstruktur untuk mendukung traceability, monitoring, measurement, reporting, serta kebutuhan verifikasi sesuai karakteristik masing-masing program atau proyek.
Pendekatan berbasis data menjadi penting karena pembangunan green economy membutuhkan dampak yang dapat dipertanggungjawabkan. Aktivitas lingkungan tidak cukup hanya diklaim memberikan manfaat, tetapi perlu didukung data, indikator, metodologi, serta sistem pengukuran yang memadai.
Khusus untuk proyek karbon, pengembangan proyek tetap harus melalui persyaratan yang relevan, termasuk metodologi, baseline, additionality, penghitungan penurunan atau pengurangan emisi, MRV, validasi, verifikasi, registrasi, serta ketentuan regulasi yang berlaku.
Sebagai tindak lanjut MoU, ESGIN, KPCI, dan KKDC dapat membentuk tim kerja bersama untuk melakukan pemetaan wilayah, petani, kelompok tani, komoditas, koperasi, komunitas, BSU, rantai pasok, pasar, serta potensi green project dan climate project.
Hasil pemetaan dapat menjadi dasar dalam menentukan program prioritas dan calon pilot project, yang selanjutnya dikaji dari aspek teknis, operasional, komersial, lingkungan, sosial, finansial, hukum, dan regulasi.
Proyek yang dinilai layak dapat dituangkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau perjanjian definitif tersendiri yang mengatur investasi, pembagian peran, teknologi, data, model bisnis, hak dan kewajiban, serta ketentuan komersial masing-masing proyek.
MoU tersebut dengan demikian menjadi payung strategis untuk membangun pipeline green project dengan menghubungkan potensi pertanian dan komunitas, rantai pasok dan pasar, ekonomi sirkular, teknologi lingkungan, serta peluang investasi hijau.




Komentar Terbaru