YOGYAKARTA – PT Pertamina Patra Niaga menargetkan distribusi bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar B50 di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada akhir September 2026 setelah pemerintah resmi meluncurkan program implementasi B50 pada Juli lalu.

Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Retail Pertamina Patra Niaga mengatakan Pertamina Patra Niaga mendapat mandat untuk menyelesaikan masa transisi dari B40 menuju B50 dalam waktu tiga bulan sejak program tersebut diluncurkan.

“Alhamdulillah, progres distribusi biosolar ini telah kami laporkan secara berkala kepada kementerian, lembaga terkait, dan stakeholder pengawas,” kata Eko disela paparannya di Terminal BBM Rewulu, Jumat (11/9).

Menurut dia, saat ini hampir seluruh terminal suplai BBM telah menyediakan pasokan Biosolar B50. Sementara itu, sekitar 95% Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia telah aktif menyalurkan B50 kepada masyarakat.

Eko menjelaskan, sekitar 5% SPBU yang belum menyalurkan B50 secara penuh masih berada dalam fase transisi karena harus menghabiskan sisa stok B40. Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah Maluku dan Papua yang sebelumnya memiliki tingkat ketahanan stok relatif tinggi.

“Sisanya yang sekitar 5% berada dalam fase transisi akhir menghabiskan sisa stok B40, khususnya di kawasan regional Maluku dan Papua di mana ketahanan stok sebelumnya cukup tinggi. Kami menargetkan pada akhir September atau Oktober ini, seluruh wilayah sudah 100% mendistribusikan B50,” jelas Eko.

Dia menegaskan, implementasi B50 merupakan salah satu program strategis pemerintah sekaligus menjadi tonggak penting dalam pengembangan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit (CPO) di Indonesia.

Menurut Eko, penerapan B50 menempatkan Indonesia sebagai negara pionir dalam implementasi biodiesel berbasis sawit dengan tingkat pencampuran tersebut.

“Perlu digarisbawahi bahwa kebijakan ini merupakan salah satu program strategis pemerintah dan menjadikan Indonesia sebagai negara pionir bahkan satu-satunya di dunia yang berhasil mengimplementasikan biofuel berbasis minyak kelapa sawit (CPO) hingga taraf campuran B50,” kata dia.

Pertamina Patra Niaga, lanjut Eko, siap mengikuti roadmap pemerintah terkait pengembangan mandatori biodiesel nasional. Bahkan, peningkatan tingkat pencampuran hingga B60 dan secara bertahap menuju B100 terbuka apabila didukung kecukupan bahan baku sawit.

“Pertamina Patra Niaga selalu siap mendukung roadmap pemerintah; bilamana ketersediaan bahan baku sawit (palm oil) mencukupi, tidak menutup kemungkinan transisi dapat berlanjut ke B60 hingga B100 secara bertahap,” tuturnya.