JAKARTA — PT Pertamina (Persero) terus memperluas manfaat energi terbarukan sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB), Pertamina tidak hanya mengenalkan energi terbarukan kepada masyarakat, tetapi juga mendorong kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan energi tersebut secara produktif.

Dari kaki Gunung Kamojang, Garut, Jawa Barat, sekelompok petani tergabung dalam Kelompok Tani Hutan Cikondang telah membuktikan bahwa pertanian organik bisa tumbuh lebih cepat dengan dukungan energi terbarukan dan kolaborasi.

Melalui kolaborasi dengan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE/PGEO) Area Kamojang, Kelompok Tani Hutan Cikondang, Kampung Kamojang Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, telah berhasil memproduksi pupuk organik GeO-Fert.

GeO-Fert merupakan inovasi pengolahan limbah organik menjadi pupuk organik dengan memanfaatkan uap panas bumi bersuhu 60–70°C dari PLTP Kamojang. Limbah pertanian dan rumah tangga diolah menjadi pupuk organik padat dan cair secara lebih efisien, cepat dan ramah lingkungan. Inovasi ini sekaligus membantu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang dapat menurunkan kualitas tanah dan lingkungan.
Sejak dikembangkan, GeO-Fert telah memproses 57,6 ton limbah organik per tahun menjadi 28,8 ton pupuk organik padat dan cair. Proses pengeringan yang sebelumnya memakan waktu lebih dari dua hari kini dapat dipangkas menjadi 12 jam, yang artinya meningkatkan efisien hingga 70–75% dibanding metode konvensional. Program ini juga berhasil menurunkan emisi karbon hingga 24,783 ton CO2 ekuivalen per tahun serta menghindari penggunaan bahan bakar fosil hingga 0,085 ktoe per tahun.

Sebelumnya, kendala terbesar ada pada cuaca. Kawasan Kamojang yang minim sinar matahari dan sering diguyur hujan membuat proses pengeringan pupuk organik memakan waktu sangat lama.

“Dulu pembuatan pupuk itu bisa sampai 2 bulan untuk produksi sekitar 2 ton. Permasalahan utamanya di pengeringan. Biasanya 2 minggu sampai 1 bulan karena sering hujan,” ujar Hendro Gunawan, Local Hero Kelompok Tani Hutan Cikondang, saat ditemui di Festival Desa Energi Berdikari (DEB) 2026 di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Sejak berkolaborasi dengan PGE Area Kamojang, proses pengeringan 5 kuintal pupuk kini hanya butuh 12 jam.

Alhasil, kapasitas produksi melonjak. Saat ini kelompok mampu memproduksi 60 ton pupuk organik per 2 minggu, dan masih akan ditingkatkan lagi seiring penambahan bak fermentasi.

“Jadi kita benar-benar pupuk ini selain dari pupuk organik, kita juga menggunakan energi yang bersih,” katanya.

Saat ini, GeO-Fert dikelola oleh 51 petani sebagai pengelola aktif dari Kelompok Tani Hutan Blok Cikondang dan 32 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekarsari, dengan total penerima manfaat langsung sebanyak 163 petani dan 653 penerima manfaat tidak langsung. Melalui pelatihan berkelanjutan, para petani kini mampu memproduksi pupuk secara mandiri, menekan biaya pembelian pupuk hingga Rp 26 juta per tahun, dan meningkatkan hasil panen berbagai komoditas seperti daun bawang, kentang, kubis, kopi, dan kacang panjang hingga 50–75%.

Dengan kapasitas PLTP mencapai 235 MW, wilayah Kamojang dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian di Jawa Barat, di mana sekitar 85% masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian. Tantangan keterbatasan akses pupuk bersubsidi dan tingginya harga pupuk kimia kini dapat diatasi dengan hadirnya GeO-Fert, yang menjadi bukti sinergi nyata antara energi bersih dan ketahanan pangan berkelanjutan.

Program Desa Energi Berdikari merupakan bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina yang mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), penerapan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG), serta aspirasi Net Zero Emission 2060 melalui pemberdayaan masyarakat berbasis energi terbarukan.(RA)