JAKARTA — Rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi oleh PT Pertamina (Persero) makin santer terdengar di tengah lonjakan dan volatilitas harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di timur tengah. Salah satu kekhawatiran meramgkak naiknya harga BBM non subsidi nanti adalah migrasi besar-besaran konsumen yakni dari non subsidi ke subsidi karena harga lebih murah.
Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, memastikan pemerintah telah mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM non subsidi terhadap pola konsumsi masyarakat ke depan. Termasuk membengkaknya subsidi karena banyak masyarakat memilih BBM lebih murah. Menurutnya, pemerintah terus memonitor dinamika pasar, termasuk kemungkinan pergeseran konsumsi dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi apabila terjadi kenaikan harga. “Sudah kami antisipasi (potensi peralihan konsumen),” ujar Laode kepada Dunia Energi, Senin (30/3).
Kenaikan harga BBM non subsidi sendiri tidak lepas dari tekanan harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan tren naik tajam dan fluktuatif. Berdasarkan data terkini, harga minyak mentah jenis Brent berada di kisaran US$112 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) di sekitar US$98 per barel.
Harga minyak sempat menembus level psikologis tinggi. Minyak Brent dilaporkan berada di atas US$108 per barel, sementara WTI sempat melampaui US$100 per barel seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Fluktuasi juga terjadi dalam waktu singkat. Pada 27 Maret 2026, Brent tercatat sekitar US$105 per barel dan WTI US$92 per barel, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan geopolitik global.
Laode memang tidak menampik jika ada perubahan harga BBM non subsidi yang dilakukan Pertamina karena itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Sementara pemerintah hanya mengatur harga BBM subsidi.
Dia memastikan pemerintah tidak akan melakukan perubahan harga BBM bersubsidi pada 1 April 2026 nanti. Pasalnya sudah banyak informasi beredar di media sosial tentang potensi kenaikan harga BBM menyusul peningkatan harga minyak dunia akibat perang di timur tengah.
Laode menegaskan kalaupun ada penyesuaian harga, maka hanya akan dialami oleh BBM non subsidi. “Ini penyesuaian untuk produk bbm non subsidi. Untuk yang subsidi aman (tidak naik),” kata Laode.
Dia pun memastikan informasi tentang perkiraaan harga BBM yang beredar di media sosial, termasuk BBM subsidi yang menyentuh Rp14 ribu per liter tidak benar. ” Bahaya ini, tidak benar. Kita tidak menaikkan harga BBM subsidi,” tegas Laode.



Komentar Terbaru