JAKARTA – Ketahanan pasokan minyak mentah dan BBM Indonesia masih relatif aman, meskipun sedang terjadi perang di Iran dan wilayah Timur Tengah. ReforMiner Institute menilai stok operasional dan kemampuan pasok BBM di dalam negeri tetap berpeluang untuk dapat dipertahankan seperti periode sebelum terjadinya perang.

Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, mengatakan jika mencermati neraca impor minyak dan BBM Indonesia, dampak atas terganggunya distribusi minyak di Selat Hormuz terhadap pasokan BBM Indonesia relatif masih dapat terkelola. Porsi impor minyak dan BBM nasional pada tahun 2025 yang melewati Selat Hormuz masing-masing adalah 18,13% dan 14,23%. Artinya distribusi sekitar 81,87% impor minyak dan 85,77% impor BBM Indonesia tidak melalui Selat Hormuz.

“Sebagai upaya untuk meminimalkan risiko, Indonesia perlu mencari alternatif pengganti impor minyak mentah dan BBM yang melalui Selat Hormuz,” kata Komaidi, Kamis (12/3).

Dia menambahkan seluruh impor minyak mentah Indonesia yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz berasal dari Arab Saudi. Sementara, impor BBM Indonesia yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz berasal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

“Alternatif pengganti minyak mentah dan BBM yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz paling tidak dapat menggunakan dua skenario,” ujar Komaidi.

Skenario pertama, mengganti sumber pasokan, untuk sementara tidak mengimpor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Kedua, tetap mengimpor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain tetapi dengan mengubah rute distribusi agar tidak melalui Selat Hormuz. Pilihan skenario ditentukan berdasarkan analisis biaya dan manfaat.

Menurut Komaidi, Indonesia dapat mengalihkan tujuan impor minyak yang berasal dari wilayah konflik pada sejumlah wilayah dengan spare capacity dan cadangan minyak yang melebihi kebutuhan konsumsi minyak di wilayah tersebut. Wilayah yang tercatat memiliki spare capacity dan cadangan minyak yang melebihi konsumsinya yang dapat menjadi alternatif tujuan impor Indonesia diantaranya adalah Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, Commonwealth of Independent States (CIS), dan Afrika.

Masyarakat global, negara produsen, dan negara konsumen minyak yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz relatif memiliki kepentingan yang sama, menghendaki aktivitas distribusi minyak dan BBM pada Selat Hormuz berjalan normal kembali.

“Konsumen utama minyak yang melalui Selat Hormuz, seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, memegang peran penting dalam aktivitas perekonomian global,” kata dia.

Komaidi mengungkapkan kontribusi konsumen minyak utama yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz, yakni China, India, Jepang, dan Korea Selatan, dalam pembentukan GDP global 2026 mencapai sekitar 27%. Karena itu, kata dia, permasalahan pada Selat Hormuz minimal berpotensi memberikan dampak negatif terhadap aktivitas dan pertumbuhan sekitar 27% perekonomian global.

“Dampak negatif berpotensi lebih besar lagi mengingat China, India, Jepang, dan Korea Selatan memiliki peran penting dalam rantai pasok aktivitas perekonomian global,” kata dia.

Hubungan ekonomi dan kemitraan strategis antara Iran dengan China dan India dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan percepatan dalam penyelesaian permasalahan
di Selat Hormuz. Apalagi jika mencermati sekitar 53% tujuan ekspor minyak mentah yang menggunakan rute distribusi Selat Hormuz adalah untuk China dan India.(AT)