JAKARTA – Pemerintah sudah memastikan bahwa stok minyak mentah, BBM dan LPG di Indonesia dalam kondisi aman meskipun terjadi gejolak di timur tengah, wilayah yang jadi salah satu sumber pasokan minyak mentah dan LPG Indonesia dengan rata-rata ketahanannya mencapai 20 hari.
Namun demikian ada satu hal yang kini justru menghawatirkan pemerintah yakni besaran subsidi yang harus dikeluarkan akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat serang Amerika – Israel ke Iran.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan pemerintah sedang mengkalkulasikan besaran subsidi yang kemungkinan bisa berubah jika kondisi ini berkepanjangan. Seperti diketahui asumsi harga minyak mentah Indonesia atau ICP dalam APBN 2026 di kisaran US$ 70 per barel. Angka tersebut menjadi salah satu acuan dalam perhitungan subsidi energi dan kebijakan harga BBM di dalam negeri.
“Memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik, dengan hati-hati,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Rabu malam (4/3).
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik lebih dari 2% menjadi di atas $83 per barel pada hari Kamis, melanjutkan kenaikan minggu ini seiring meningkatnya eskalasi perang di Timur Tengah.
Pemerintah sendiri menuturkan sudah mulai mengalihkan pembelian minyak mentah ke Amerika Serikat. Sebanyak 25% dari keseluruhan impor minyak mentah Indonesia diketahui dipasok dari timur tengah. Kini selain Amerika ada beberapa sumber pasokan lain sedang dijajaki. “Sekarang udah mulai jalan (tambahan impor dari Ameraika). Bertahap, ya bertahap itu kan bertahap. sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brazil,” ungkap Bahlil. (RI)



Komentar Terbaru