JAKARTA – Pengurangan produksi batu bara dinilai belum cukup kuat untuk memengaruhi harga komoditas secara signifikan.
Ketua Bidang Kajian Batu Bara dan Renewable Energy Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), FH Kristiono, menjelaskan sekitar 43% atau 238 juta ton batu bara Indonesia dijual ke China, dari total ekspor sebesar 518 juta ton per tahun. Namun demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan kapasitas industri batu bara China yang mampu memproduksi sekitar 4,7 miliar ton dengan kebutuhan sebesar 5,2 miliar ton.
Kristiono mengatakan bahwa Indonesia hanya berkontribusi sekitar 5% dari total kebutuhan energi China, sehingga negeri tirai bambu ini berpotensi mencari sumber lain untuk menggantikan turunnya ekspor dari Indonesia.
“Pengurangan produksi batu bara tidak akan mengatrol harga karena China either meningkatkan produksi atau mencari substitusi,” ujar Kristiono dalam Workshop Mining for Journalist yang digelar Perhapi, Selasa(10/2/2026).
Menurut Kristiono yang juga menjabat Chief Executive Officer of Ucoal, harga batu bara kalori rendah perlu naik hingga mencapai level US$70/ton jika Pemerintah ingin mengejar target setoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor mineral dan baru bara (minerba) di tahun 2026.
Ia menyebut harga batu bara kalori rendah (4.200 GAR) yang merupakan komoditas ekspor batu bara Indonesia, perlu naik ke kisaran US$70/ton dari harga rata-rata saat ini sebesar US$47/ton. Dengan demikian Pemerintah dapat meraup setoran PNBP 2026 menyamai realisasi 2025 senilai Rp138 triliun.
“Untuk mendapatkan penerimaan negara sebesar itu dengan produksi di-cut [menjadi sekitar] 600 juta ton, dengan asumsi ceteris-paribus, maka yang mendominasi produksi nasional adalah CV4200GAR/ICI4, oleh karena itu dengan perkalian komutatif biasa maka minimal harga adalah US$70 sedangkan harga hari ini masih di US$47,” ungkap Kristiono.
Data Argus Media menunjukkan harga batu bara Indonesia kalori rendah atau 4.200 GAR untuk untuk pengapalan pengapalan Supramax, yang mencerminkan harga batu bara di titik muat di Kalimantan sebelum biaya pengapalan, tercatat US$47,17/ton pada 30 Januari 2026, naik dari US$44,91/ton di awal tahun ini. Argus Media mencatat rata-rata harga batu bara Indonesia kalori rendah pada Juli—Desember 2025 berada di level US$43,55/ton, atau turun 7% dibandingkan dengan periode Januari—Juni 2025.
Pemerintah diketahui memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tahun 2026, dengan harapan kenaikan harga. Ekspektasi kenaikan harga juga menjadi upaya Pemerintah mengejar target PNBP sektor minerba tahun ini.
Kristiono memprediksi permintaan batu bara global dan domestik masih sangat besar. Permintaan dari China, India dan domestik akan menjadi yang utama. Pemanfaatan batu bara untuk pembangkit listrik akan diubah menjadi nilai tambah atau CTX (Coal To X).
Ia mengatakan struktur biaya penambangan batubara semakin menua, lebih fokus pada infrastruktur dan nilai tambah. Peraturan baru abad ke-21 membebani profitabilitas dan mengurangi kemampuan transisi energi.
Kristiono menyebut bahwa penambangan batu bara harus diatur secara ketat untuk melindungi lingkungan dan investasi.
“Unit penambangan batu bara telah direvisi 4 kali dalam 16 tahun, ini tidak menguntungkan untuk investasi besar. Prakiraan harga batu bara pada tahun 2028 adalah US$100 per ton. Ini menunjukkan siklus komoditas akan lebih pendek. Pemerintah India harus memberikan insentif kepada industri pertambangan batu bara untuk mengatasi biaya yang lebih tinggi,” ujarnya.(RA)




Komentar Terbaru