JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menyatakan proses perizinan proyek pengembangan Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku, terus menunjukkan percepatan signifikan setelah terbitnya dua surat izin penting dari dua Kementerian yakni Kementerian Kehutanan dan Kementerian ATR BPN.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas mengapresiasi dua surat izin lingkungan tersebut yakni persetujuan Pelepasan Kawasan Hutan untuk proyek Offshore LNG (OLNG) di Desa Lamatang, Kecamatan Tanibar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanibar Maluku oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni dan Rekomendasi Kesesuaian Pemanfaatan Ruang (RKKPR) oleh Kementerian ATR BPH
“Dengan dua surat tersebut sebagai syarat mutlak kelengkapan administrasi penerbitan AMDAL untuk Proyek OLNG , Inpex Masela, Insya Allah dalam minggu ini juga, Menteri Lingkungan Hidup dapat menerbitkan AMDAL nya,” kata Djoko kepada Dunia Energi, Senin (9/2).
Lebih lanjut Djoko menyatakan persetujuan dan pengerjaan AMDAL ini menjadi signal positif bagi perkembangan industri hulu migas tanah air ke depannya.
“Percepatan penerbitan perijinan persetujuan tersebut menunjukan bahwa saat ini urusan kelengkapan teknis administratif untuk sektor Hulu migas sudah dapat semakin cepat,” ungkap Djoko.
Proyek Pengembangan Lapangan Abadi oleh Inpex Masela ini adalah proyek hulu migas terbesar dalam beberapa dekade terakhir, OLNG-nya adalah skema Hulu, juga dilengkapi dengan teknkologi CCS/CCUS dan menelan investasi jumbo sekitar US$20 miliar.
Proyek Abadi Masela adalah salah satu proyek gas terbesar yang pernah digarap di Indonesia. Meskipun belum berproduksi, usia proyek ini sudah lebih dari satu dekade hanya untuk mengurus berbagai perizinan dan studi kelayakan. Saat ini proses Front End Engineering Design (FEED) sudah berjalan.
Bahkan proyek ini sempat alami pergantian kepemilikan hak partisipasi atau Participating Interest (PI). Shell memutuskan melepas PI nya yang kemudian diakuisisi oleh Pertamina dan Petronas.
Seperti diketahui, lapangan ini memiliki cadangan gas sekitar 18,54 TCF. Setelah beroperasi penuh, kapasitas produksinya akan mencapai 9,5 MTPA LNG, 150 MMSCFD gas pipa, serta sekitar 35.000 BOPD kondensat. (RI)





Komentar Terbaru