JAKARTA – Pemerintah hingga kini masih melakukan evaluasi terhadap pengajuan impor BBM dari Shell Indonesia. Diketahui hingga kini hanya tinggal Shell yang belum mendapatkan izin impor dari Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM, menegaskan pihaknya telah menerima permintaan izin impor BBM dari Shell dan sekarang proses evaluasi masih berlanjut. Selain itu menurut dia, Shell jadi badan usaha yang pada tahun lalu terlambat untuk melakukan pengadaan BBM dari Pertamina.
“Shell itu terakhir, menyetujui proses kemarin pembelian (dari Pertamina),” ungkap Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (6/2).

Pemerintah kata Laode dalam evaluasi tersebut juga melihat kecenderungan badan usaha dalam melakukan pengadaan BBM. Namun dia memastikan kuota yang bakal diberikan tidak akan jauh berbeda dengan tahun lalu. “Khusus Shell masih dievaluasi. kita evaluasi juga saat mereka order. Kuotanya mirip tahun 2025,” ungkap Laode.

Lebih lanjut, menurut dia badan usaha swasta untuk tahun ini bisa mengajukan impor dalam periode setiap enam bulan yang sudah diberikan juga untuk badan usaha seperti bp dan Vivo. “Sebetulnya swasta itu sudah kita berikan 6 bulan (untuk impor BBM),” kata Laode.

Kondisi stock BBM di SPBU Shell memang kembali kosong dalam beberapa pekan terakhir. Padahal SPBU dari badan usaha lainnya normal.

Ingrid Siburian, President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia mengungkapkan koordinasi intensif terus dilakukan dengan pemerintah agar rekomendasi ekspor bisa keluar.

“Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa kami terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor bahan bakar minyak (BBM) tahun 2026 sesuai dengan tata laksana yang berlaku,” ujar Inggrid. (RI)