JAKARTA – Pasar karbon di Indonesia ditargetkan dapat diperdagangkan dengan nilai transaksi yang besar pada Juli mendatang. Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional
“Saya bisa laporkan pemerintah menentukan akhir bulan Juni market operasional, Juli kita berharap perdagangan cukup besar bisa miliar dolar ini tembusan luar biasa dan semua menteri-menteri di kabinet merah putih punya misi yang sama harus berhasil,” ungkap Utusan Khusus Presiden di Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo, dalam sebuah acara di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Ia menyebut nilai perdagangan karbon ini bisa mencapai miliaran dolar. Ke depan, pemerintah akan mengutamakan hutan-hutan bakau, kemudian rumput laut, seagrass atau padang lemon yang merupakan nature base solution.
“Saya bisa kita sebut pelaku karbon internasional tertarik. Mereka tidak tertarik base on industri, pabrik kimia, semen, PLTU mereka lebih tertarik nature base solution kita tidak boleh over estimate, menurut pelaku internasional semua yang diinginkan dunia internasional tercantum tertera di PP 110/2025,” kata Hashim
Ia mengungkapkan sejumlah bisnis menjanjikan yang berpotensi menarik dana besar hingga miliaran dolar ke Indonesia. Bisnis tersebut adalah pasar karbon (carbon market) terutama yang berbasis solusi alam (nature-based solution). Bisnis lainnya, yakni penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture storage/CCS).
Hashim menyoroti potensi CCS yang lebih bersifat mechanical solution ketimbang nature-based solution.
Wilayah bawah laut Indonesia juga mempunyai banyak rongga (cavern) bekas dari sumur-sumur minyak zaman kolonial Belanda, sehingga dengan rongga-rongga tersebut kapasitas karbon Indonesia bisa mencapai 500–700 gigaton karbon.
Menurut Hashim, rongga-rongga tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyerap atau menyimpan karbon misalnya dari Singapura, Korea Selatan, dan Jepang sehingga CCS ini menjadi salah satu bisnis yang menjanjikan.
“Ini adalah untuk pemain besar (big players). Karena CCS itu minimal miliar dolar. Jadi, Exxon, British Petroleum (BP), saya dengar Grup Bakrie juga di Arun, Aceh. Potensi Indonesia besar sekali,” kata Hashim.
PT Energi Mega Persada Tbk (EMP/ENRG) melalui anak usaha yang sahamnya dimiliki 48%, yaitu PT Pema Global Energi (PGE), telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk rencana pengembangan fasilitas Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization Storage (CCUS) di Wilayah Kerja B yang mencakup lapangan gas Arun di Aceh.
Teknologi CCUS dapat menangkap emisi CO2 (yang dihasilkan oleh fasilitas produksi yang ada) dan diinjeksikan kembali kedalam reservoir yang masih produktif untuk meningkatkan produksi migas
yang ada. Setelah produksi mencapai titik optimum, barulah terjadi peralihan ke fase CCS yang mana injeksi atas CO2 yang ditangkap dilakukan tanpa adanya peningkatan produksi.
Berdasarkan studi geological & geophysical reservoir yang dilakukan pada tahun 2023, lapangan gas Arun memiliki karakteristik yang tepat untuk program pengembangan fasilitas CCS dan CCUS. Lapangan gas Arun memiliki reservoir batu gamping (limestone) dengan seal rock (batuan penutup) yang sangat baik untuk tempat penyimpanan CO2 dan dapat meminimalkan kebocoran CO2 ke
permukaan.
Lapangan gas Arun juga memiliki lokasi yang strategis di dekat area Selat Malacca yang sangat sibuk sehingga dapat menjadi hub dari berbagai sumber penghasil CO2. Lapangan gas Arun diestimasikan dapat menyimpan sekitar 10 trilyun kaki kubik atau 504 juta ton CO2.
Anak usaha EMP lainnya, yaitu EMP Gebang Limited, juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan Pupuk Indonesia untuk penjualan gas yang aakan diproduksikan oleh blok gas Gebang (Gebang) di Sumatera Utara kepada Pupuk Indonesia.
Pemanfaatan CCS / CCUS di lapangan Arun adalah momentum emas untuk menjadikan Aceh sebagai regional carbon hub di Indonesia.(RA)




Komentar Terbaru