WASHINGTON – Presiden Donald Trump mengatakan industri minyak AS dapat “beroperasi kembali” dengan peningkatan operasi di Venezuela dalam 18 bulan, setelah operasi militer yang dijalankan negara adidaya tersebut berhasil menggulingkan Presiden Nicolás Maduro dari kekuasaan.

Trump mengatakan kepada NBC News bahwa sejumlah anggaran yang besar harus dikeluarkan untuk operasi militer tersebut. Perusahaan minyak, kata dia, akan mengeluarkan biaya untuk membiayai operasi tersebut. Perusahaan itu kemudian akan mendapatkan penggantian dari pemerintah atau mendapatkan pengebalian biaya melalui pendapatan perusahaan setelah beroperasi kembali di Venezuela.

Perwakilan dari perusahaan minyak besar AS berencana untuk bertemu dengan pemerintahan Trump akhir pekan ini, kata laporan CBS News yang merupakan mitra BBC. Analis sebelumnya mengatakan kepada BBC bahwa dibutuhkan puluhan miliar dolar, dan berpotensi satu dekade, untuk memulihkan produksi minyak Venezuela hingga mencapai kondisi sebelumnya.

Pernyataan Trump muncul beberapa hari setelah ia mengatakan AS akan “mengelola” Venezuela setelah penggulingan Presiden Maduro  yang sekarang telah dibawa ke AS untuk menghadapi tuduhan pidana.

Berbicara kepada NBC tentang jangka waktu 18 bulan yang dia tetapkan bagi perusahaan minyak asal negeri Paman Sam itu untuk kembali beroperasi di Venezuela, Trump berspekulasi bahwa produksi minyak dapat meningkat “dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang”.

Ia  secara eksplisit menyatakan ambisinya agar perusahaan minyak AS meningkatkan operasi mereka di negara tersebut. “Memiliki Venezuela sebagai produsen minyak baik untuk AS karena hal itu menjaga harga minyak tetap rendah,” tambah Trump.

Para analis yang sebelumnya berbicara kepada BBC skeptis bahwa rencana Trump akan berdampak besar pada pasokan global – dan karenanya harga – minyak. Mereka menyarankan bahwa perusahaan akan mencari jaminan bahwa pemerintahan yang stabil telah berkuasa, dan bahkan ketika mereka berinvestasi, proyek mereka tidak akan menghasilkan keuntungan selama bertahun-tahun.

Trump telah mengklaim dalam beberapa hari terakhir bahwa perusahaan minyak AS dapat memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela. Negara ini memiliki cadangan minyak sekitar 303 miliar barel, cadangan terbukti terbesar di dunia – tetapi produksi minyaknya telah menurun sejak awal tahun 2000-an.
Pemerintahan Trump melihat potensi signifikan untuk prospek energi mereka sendiri dalam cadangan minyak Venezuela.

Meningkatkan produksi minyak negara itu akan mahal bagi perusahaan-perusahaan AS. Selain itu, minyak Venezuela berat dan lebih sulit dimurnikan. Saat ini hanya ada satu perusahaan AS, Chevron, yang beroperasi di negara tersebut.

Dimintai komentar tentang rencana Trump untuk produksi minyak AS di Venezuela, juru bicara Chevron, Bill Turenne, mengatakan perusahaan tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan, serta integrasi aset perusahaan. “Kami terus beroperasi sepenuhnya sesuai dengan semua hukum dan peraturan yang relevan,” katanya.

Perusahaan energi besar AS lainnya, Exxon dan ConocoPhillips, tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Trump juga mengklaim bahwa Venezuela “secara sepihak merebut dan mencuri minyak Amerika”.

Wakil Presiden JD Vance menggemakan klaim tersebut di “X” setelah Maduro ditangkap dengan menulis bahwa “Venezuela mengambil alih properti minyak Amerika dan hingga baru-baru ini menggunakan properti curian itu untuk memperkaya diri dan mendanai kegiatan narkoterorisme mereka”.

Perusahaan minyak AS memiliki sejarah panjang di Venezuela dimana mereka mengekstraksi minyak berdasarkan perjanjian lisensi yang diterimanya.

Venezuela kemudian mengambil kebijakan drastis untuk menasionalisasi industri minyaknya pada  1976 dan pada  2007 ketika Presiden Hugo Chavez menerapkan kontrol negara yang lebih ketat atas aset-aset milik asing yang tersisa dari perusahaan minyak AS yang beroperasi di negara tersebut.

Pada 2019, pengadilan Bank Dunia memerintahkan Venezuela untuk membayar $8,7 miliar kepada ConocoPhillips sebagai kompensasi atas kebijakan yang diambil pada 2007 tersebut.

Jumlah tersebut belum dibayarkan oleh Venezuela, sehingga setidaknya satu perusahaan minyak AS memiliki kompensasi yang belum dibayarkan kepadanya.(LH)