JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaku Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) melaporkan keberhasilan pengeboran sumur pengembangan SLW-E006 di Lapangan Salawati, yang dikelola PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan tajak sumur yang dilakukan Pertamina di Papua sejak akhir tahun lalu sudah membuahkan hasil positif.
“Alhamdulilah PT. Pertamina EP Asset 4; Region 4 Zona 14 Papua Barat telah melakukan tajak/ mulai pengeboran sumur pengembangan pada Cluster E Field Salawati yaitu sumur pengembangan SLW-E006 pada tanggal 31 Desember 2025,” ujar Djoko kepada Dunia Energi, Minggu (22/2).
Sumur SLW-E006 kata Djoko dibor hingga kedalaman 2.165 meter measured depth (mMD) untuk mencapai lapisan Kais Carbonate. “Pengeboran sumur dilakukan hingga kedalaman 2,165 mMD untuk mencapai lapisan Kais Carbonate dan kemudian dilakukan pekerjaan komplesi dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 bph,” kata Djoko.
Secara operasional, sumur ini merupakan keberhasilan kedua dari total empat sumur dalam rangkaian program pengeboran di Lapangan Salawati. “Secara operasional, ini merupakan keberhasilan sumur kedua yang telah dikerjakan dari empat sumur rangkaian drilling di Lapangan Salawati,” ujarnya.
Sumur tersebut dibor secara miring berarah (Directional/J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2-1000 HP hingga kedalaman akhir 2.165 mMD atau 2.101 meter true vertical depth (mTVD). Total waktu yang dibutuhkan untuk fase pengeboran dan uji produksi mencapai 43 hari, dan sumur dinyatakan berhasil menemukan minyak pada 16 Februari 2026.
“Pada pengeboran ini dilakukan beberapa upgrade aplikasi new teknologi yang diterapkan pada sumur ini yaitu seperti Casing While Drilling (CWD) di 13-3/8” yang terbukti efektif memberikan added value kepada keberhasilan pengeboran di trayek 17-1/2”,” jelas Djoko.
Selain itu, strategi pengeboran pada zona rumbble di trayek 12-1/4 inci dengan pengaplikasian wellbore strengthening juga dinilai berjalan sangat baik sehingga tidak terjadi kendala besar yang menghambat operasi.
Dari sisi investasi, estimasi biaya yang telah dikeluarkan berdasarkan field estimate mencapai USD 9.774.829,7 atau sekitar 94 persen dari AFE yang disetujui.
Djoko berharap dua sumur berikutnya dalam program pengeboran ini juga mampu memberikan hasil optimal guna mendukung target produksi nasional.
“Mohon doa dua sumur berikutnya juga dapat menghasilkan minyak yg sama bahkan lebih besar, sehingga dapat mengejar ketinggalan untuk mencapai target APBN 2026 sebesar 610 ribu barel per hari,” ujar Djoko.





Komentar Terbaru