JAKARTA – Kebocoran pipa gas yang dikelola PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) ternyata berdampak terhadap produksi minyak salah satu blok terbesar di Indonesia yakni blok Rokan. Gas yang mengalir melalui pipa TGI ini memang vital bagi operasional blok Rokan, karena dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik untuk menggerakan pompa angguk serta produksi steam atau uap panas yang dibutuhkan di lapangan Duri.

Informasi yang diterima Dunia Energi pada awal pasokan gas berhenti Jumat pekan lalu (2/1), produksi blok Rokan hanya 50 ribuan barel per hari (bph) jauh dari rata-rata produksi normal yakni 150 ribuan bph.

Taufan Marhaendrajana, Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) menjelaskan sejak awal pekan ini sebenarnya produksi minyak Rokan sudah mulai terkatrol. “Ya (50 ribuan bph) tapi kemarin sudah naik ke 70 ribuan bph,” kata Taufan kepada Dunia Energi, Rabu (7/1).

Pekan ini SKK Migas targetkan perbaikan pipa TGI selesai sehingga produksi minyak bisa kembali digenjot. Namun Taufan mengungkapkan meskipun perbaikan pipa sudah selesai untuk kembali produksi Blok Rokan secara maksimal juga membutuhkan waktu. “Bertahap (naikan produksi minyak), semoga cepat transisinya,” ujar Taufan.

Bkok Rokan merupakan blok yang sudah mature. Namun cadangannya diyakini masih sangat besar. Saat ini sebagian besar produksinya dihasilkan oleh sumur-sumur tua memanfatkan ribuan pompa angguk. Selain itu di lapangan Duri, selama ini menggunakan metode steam flood atau menginjeksikan steam atau uap panas ke dalam reservoir untuk mengangkar minyak.

Kedua metode ini membutuhkan energi sangat besar dan selama ini Rokan mendapatkan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan energi pembangkit listrik dan fasilitas produksi uap panas.

Blok Rokan sendiri membutuhkan total listrik sebesar 430 Megawatt (MW) yang dipasok dari PLTG North Duri Cogen MCTN berkapasitas 300 MW dan didukung PLTG Minas dan Central Duri sebesar 130 MW. PT Pertamina Hulu Rokan dan PT PLN (Persero) juga sudah teken Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) untuk memenuhi kebutuhan operasional blok Rokan. Total listrik yang akan dipasok PLN melalui jaringan (on grid) mencapai 80 megawatt (MW) yang bakal disalurkan secara bertahap. Langkah ini diambil PHR karena pasokan gas yang diterima terus menurun sehingga berdampak ke listrik yang dihasilkan.

Muh. Taufan, Operation Head Subsurface Development & Planning  Zona Rokan, PHR pernah menjelaskan bahwa PHR membutuhkan gas sebesar 215 BBTUD untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik. Namun realisasi suplai gas kurang dari yang dibutuhkan. Selain itu pembangkit listrik Duri dan Minas juga sudah terlalu tua sehingga tidak lagi efisien.

Selama ini pasokan gas untuk pembangkit listrik Rokan berasal dari blok Corridor, Blok Jambi Merang dan Jabung. “Ketersediaan gas selalu dibawah yang dibutuhkan. Kita memerlukan 215 BBTUD tapi cuma dapat 190-195 BBTUD. Rokan ada ketergantungan pihak eksternal,” ungkap Taufan.