JAKARTA – Di tengah penggelontoran dana eksplorasi Rp33,19 miliar, PT Timah Tbk. (TINS) ternyata mengubah strategi lapangannya pada kuartal III/2026. Jika biasanya identik dengan penambangan laut, kali ini eksplorasi laut nyaris direm total.

Division Head Corporate Secretary Timah, Ruddy Nursalam, mengungkapkan dari total biaya Rp33,2 miliar yang terdiri dari biaya operasional Rp21,6 miliar dan investasi Rp11,6 miliar, aktivitas di laut hanya berupa survei batimetri di Perairan Bangka.

“Pada periode ini belum melakukan kegiatan pengeboran, baik untuk eksplorasi maupun pengeboran pandu di area lepas pantai,” ujar Ruddy dalam laporan keterbukaan informasi, Senin (12/10/2026).

Sebaliknya, eksplorasi darat digenjot habis-habisan. TINS melakukan pemetaan, survei geofisika ground magnetic dan geolistrik, serta pengeboran timah primer dan aluvial di Pulau Bangka dan Belitung dengan total kedalaman mencapai 11.666 meter.

Langkah ini dinilai berkaitan dengan keberhasilan perseroan menekan kebocoran produksi di Belitung. Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro sebelumnya melaporkan produksi bijih timah di Belitung melonjak hampir 10 kali lipat setelah penertiban.

“Yang tadinya produksi rata-rata setahun hanya 1.000 atau 1.200 ton, itu bisa mencapai 10.000 ton. Jadi hampir 10 kali lipat karena kebocoran bisa tertutup,” kata Restu dalam RDP dengan Komisi XII DPR RI, 15 September lalu.

Namun, lonjakan tersebut justru menimbulkan masalah baru. Kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) PT Timah untuk Belitung di 2026 hanya 3.000 ton, dan habis hanya dalam 2,5 bulan.

Memasuki kuartal IV/2026, TINS berencana kembali menyeimbangkan strategi. Untuk laut, perseroan menyiapkan 1 unit Kapal Bor dan 4 unit Ponton Bor yang akan difokuskan di perairan Bangka dan Kundur. Sementara eksplorasi darat akan dilanjutkan dengan pengeboran pandu dan survei topografi di Bangka-Belitung.(RA)