JAKARTA – Pemerintah memastikan untuk memangkas kuota produksi batu bara tahun 2026. Kebijakan itu ditempuh sebagai bagian dari strategi untuk menaikkan lagi harga komoditas batu bara dunia yang dalam beberapa bulan terakhir terus tertekan.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan Indonesia merupakan pemasok utama batu bara dunia.
“Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Nah, dari 1,3 miliar ton itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau setara kurang lebih sekitar 43%. Akibatnya apa? Supply and demand itu tidak terjaga. Akhirnya harga batu bara turun,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1).
Untuk bisa mendorong harga, maka secara teori produksi harus diturunkan. Indonesia bakal memangkas produksi batu bara tahun ini hingga kurang lebih 600 juta ton.
“Kita akan melakukan revisi RKAB. Jadi produksi kita akan turunkan. Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber di alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Kurang lebih jadi 600 jutaan ton,” jelas Bahlil.
Sementara untuk tahun 2025, total batu bara yang diproduksikan Indonesia tembus 790 juta ton dengan rincian untuk diekspor sebesar 514 juta ton atau sekitar 65,1% dari total produksi. Sementara untuk domestik sebesar 254 juta ton atau 32% dan sisanya 22 juta ton atau 2,8% sebagai cadangan stok.
Bahlil memastikan jika produksi turun porsi untuk dalam negeri tetap menjadi prioritas. “Berapapun RKAB harus pastikan kebutuhan dalam negeri dulu. Kita bisa naikan DMO untuk pembangkit listrik kalau kebutuhan terlenuhi baru ekspor. Tapi untuk domestik yang jadi utama,” kata Bahlil.



Komentar Terbaru