BANDUNG – PT PLN Indonesia Power (PLN IP) melalui Unit Bisnis Pembangkita (UBP) Saguling terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat melalui program inovasi sosial unggulan Saguling Berdaya. Mengusung konsep ekonomi sirkular, program ini tidak hanya berkontribusi pada pemulihan ekosistem Sungai Citarum, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi kelompok masyarakat rentan.

Melalui integrasi 26 Bank Sampah Unit di wilayah Bandung Raya, Saguling Berdaya mencatatkan capaian lingkungan yang signifikan sepanjang periode 2023-2025. Sebanyak 2.158,46 ton sampah berhasil dikelola dari sumbernya, terdiri dari 1.817,03 ton sampah organik dan 341,43 ton sampah anorganik. Upaya ini turut berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 59,48 ton CO₂e per tahun melalui pengurangan praktik pembakaran sampah terbuka.

Dari sisi inovasi, penerapan digitalisasi pada kesiapan start-up pembangkit yang terintegrasi dengan program ini mampu menurunkan emisi CO hingga 99,8%, serta emisi SO₂ dan NO₂ hingga 99,91% berdasarkan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Selain itu, PLN IP UBP Saguling juga telah menanam sebanyak 54.000 pohon di wilayah hulu sebagai langkah konservasi untuk menjaga ketahanan lahan serta mencegah erosi dan banjir.

Tidak hanya berdampak pada lingkungan, program ini juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata. Sebanyak 15 anggota pengelola mengalami peningkatan pendapatan rata-rata menjadi Rp2.300.000 per bulan, dari sebelumnya sekitar Rp1.000.000. Di sektor ketahanan pangan, budidaya 1.200 ekor ayam petelur yang memanfaatkan pakan berbasis maggot dari sampah organik mampu menghasilkan 62 kg telur per hari atau sekitar 1.080 butir, yang turut mendukung pemenuhan gizi masyarakat.

Melalui program edukasi Waste Management Go To School, PLN IP telah menjangkau 16.352 siswa di 32 sekolah guna menanamkan budaya pemilahan sampah sejak dini. Secara keseluruhan, Saguling Berdaya telah memberikan dampak langsung kepada 2.450 nasabah bank sampah dan kelompok masyarakat rentan lainnya, termasuk mantan preman, buruh tani, dan penyandang disabilitas yang kini memiliki sumber penghasilan tetap dari sektor pengolahan limbah.

Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power  menyampaikan bahwa program ini merupakan wujud nyata komitmen perusahaan dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan.

“Program Saguling Berdaya adalah bukti nyata dari visi kami untuk menjadi perusahaan listrik global yang tidak hanya berkinerja terbaik, tetapi juga berkelanjutan. Kami melihat sampah bukan lagi sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi sirkular,” ujar Bernadus dalam keterangannya, Rabu (1/4).

Bernadus menambahkan, melalui program MENARA (Menjaga Nadi Citarum & Menerangi Negeri), PLN Indonesia Power berkomitmen untuk memperpanjang usia layanan Waduk Saguling dari proyeksi tahun 2045 menjadi 2084 melalui pengurangan sedimentasi dan sampah.

“Komitmen kami melampaui operasional pembangkit. Kami hadir untuk memastikan setiap energi yang dihasilkan selaras dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang,” tambahnya.

PLN Indonesia Power juga melakukan transformasi di sisi hulu operasional melalui Eco-Inovasi Digitalisasi Kesiapan Start-Up Pembangkit. Inovasi ini mengubah proses penilaian kesiapan turbin dari metode manual (paper-based) menjadi sistem digital dan real-time, sehingga mampu meminimalkan risiko kegagalan start-up, mempercepat penanganan gangguan hingga 20–50 menit, serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil pada emergency generator.

Saguling Berdaya juga berhasil membangun kohesi sosial di masyarakat. Program ini mendorong transformasi sosial yang inklusif, di antaranya melalui pemberdayaan 8 pemulung yang kini memiliki pekerjaan layak dan jaminan kesehatan, serta terbebas dari stigma sosial. Selain itu, sebanyak 31 penyandang disabilitas kini produktif menghasilkan produk UMKM, sementara 9 mantan preman telah beralih profesi menjadi pengelola pakan ternak dan budidaya ayam petelur dengan rata-rata penghasilan mencapai Rp2.500.000 per bulan.

Keberhasilan pengelolaan energi bersih di PLTA Saguling turut diperkuat dengan kepemilikan Sertifikat TIGR (Tradable Instrument for Global Renewables). Hingga November 2025, sebanyak 49 Renewable Energy Certificates (REC) telah di-retire, menegaskan bahwa energi yang dihasilkan berasal dari sumber terbarukan yang diakui secara global. Dampak program ini juga tercermin dalam nilai Social Return on Investment (SROI) sebesar 1,8 yang menunjukkan bahwa setiap investasi yang dilakukan menghasilkan manfaat sosial yang berlipat.

Bernardus menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan strategi Triple Loop Learning untuk memastikan setiap tantangan di lapangan dapat diselesaikan dengan solusi jangka panjang melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas. “Melalui sub-program NAKULA (Ngajaga Aksi Kolaborasi Untuk Lingkungan Asri) dan SADEWA (Semangat Aksi Dalam Edukasi Warga Untuk Alam Lestari), kami berharap Saguling Berdaya dapat menjadi model best practice nasional yang dapat direplikasi di berbagai unit pembangkit di Indonesia,” pungkasnya. (RI)