JAKARTA – Setelah Unit 2 beroperasi pada Juni 2025, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mulai mengembangkan Unit 3 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai berkapasitas 55 megawatt. Proyek yang berlokasi di WKP Lumut Balai, Sumatera Selatan ini ditargetkan beroperasi secara penuh (commissioning operation date/COD) pada 2030.

Direktur Operasi PGE Ahmad Yani, mengatakan pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia kini memasuki fase yang semakin krusial, sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam UPTL periode 2025-2034. “Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 ditetapkan sebagai bagian dari arah strategis pemerintah,” ujar Ahmad Yani dalam keterangannya, Rabu (14/1).

Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 juga tercatat sebagai proyek strategis dalam Blue Book 2025-2029 Kementerian PPN/Bappenas. Melalui pengembangan ini, PGE menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas panas bumi nasional secara berkelanjutan, sekaligus menjawab kebutuhan listrik di Sumatera Selatan yang terus meningkat.

PGE pada Senin (12/1) telah melaksanakan kick-off meeting proyek pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) yang digelar di Palembang, Sumatera Selatan. Melalui Pertemuan ini menjadi titik awal pengembangan proyek melalui penguatan koordinasi yang melibatkan berbagai fungsi terkait di PGE.

Seiring dengan itu, PGE juga membangun sinergi yang erat dengan para pemangku kepentingan eksternal, mulai dari pemerintah daerah, kontraktor, masyarakat sekitar, PLN, hingga instansi pemerintah terkait. Kolaborasi lintas disiplin dan fungsi ini diarahkan untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan proyek berjalan lancar dan selaras untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.

“Kick Off Meeting menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan seluruh aspek proyek, baik dari sisi teknis, perizinan, pendanaan, maupun pengelolaan risiko,” kata Ahmad Yani.

Inisiatif pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 merupakan kelanjutan dari proyek PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW. Capaian tersebut memperkuat langkah PGE dalam mendekati target kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri sebesar 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,8 GW pada 2033. Seiring dengan arah pengembangan tersebut, PGE telah mengidentifikasi potensi panas bumi hingga 3 GW dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola secara mandiri sebagai fondasi pengembangan jangka panjang.

Selain berkontribusi terhadap pasokan listrik, industri panas bumi juga memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Sepanjang 2010–2024, sektor ini mencatatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp21,43 triliun, sekaligus memberikan manfaat langsung bagi daerah penghasil melalui Dana Bagi Hasil (DBH) yang mencapai Rp10,82 triliun pada periode 2019–2024. Kontribusi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui efek berganda.

Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW yang tersebar di enam wilayah operasi, serta tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis lainnya, antara lain PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 110 MW, serta beberapa proyek co-generation bekerja sama dengan PLN Indonesia Power dengan total kapasitas mencapai 230 MW.(AT)