JAKARTA – Produksi minyak di Blok Rokan sejak awal Januari hingga kini masih belum maksimal seiring dengan kerusakan pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang mengalirkan gas ke pembangkit listrik blok Rokan dan fasilitas produksi steam.
Taufan Marhaendrajana, Deputi Eksploitasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menjelaskan berdasarkan laporan dari operator pipa perbaikan dari kebocoran baru memerlukan waktu yang lebih lama.
“Belum normal (produksi Rokan), info dari transporter perlu 6-9 hari lagi untuk full normal,” kata Taufan kepada Dunia Energi akhir pekan lalu.
Sementara ini, produksi listrik untuk Blok Rokan kata Taufan mengandalkan pasokan dari blok Bentu yang dioperatori oleh PT Energi Mega Persada (EMP). Namun itu juga tidak lebih dari 50% dari produksi normal blok Rokan yang rata-rata bisa menghasilkan 150 ribuan barel per hari (bph). “Masih 60 ribuan (bph). Gas dari Bentu,” ujar Taufan.
Kondisi ini tentu menjadi pukulan telak terhadap upaya mempertahankan atau meningkatkan produksi di tahun 2026. Pasalnya tahun lalu produksi minyak Indonesia mampu mencapai target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yakni sebesar 605 ribu bph, sementara produksi rata-rata tahun lalu tercatat mencapai 605,3 ribu bph.
Sebelumnya Taufan juga menginformasikan setelah perbaikan pada kebocoran pipa pertama selesai ternyata terjadi lagi kebocoran di titik yang berbeda. “Sebelumnya kp 222 sekarang kp 294,” kata Taufan. (RI)





Komentar Terbaru