NEW YORK– Harga minyak global pada turun pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu (12/1) menghentikan reli selama sembilan hari berturut-turut. Penurunan harga itu disebabkan oleh menguatnya greenback dan kemerosotan saham-saham energi akibat kekhawatiran penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung.

Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun satu dolar AS menjadi menetap pada US$51,59 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret jatuh US$1,2 menjadi ditutup pada US$60,48 per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah berjangka melemah bersama dengan penurunan sektor energi di 11 sektor utama S&P 500, yang menyebabkan penurunan sekitar 0,58%. Kinerja hangat dari minyak mentah berjangka dan saham-saham energi terjadi ketika penutupan pemerintah AS telah berlangsung selama tiga minggu dan tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Para analis dan investor telah mengaktifkan mode risk-off (penghindaran risiko) dan menjadi lebih berhati-hati tentang memegang aset-aset berdenominasi dolar AS.

Dalam hal itu, karena dolar AS melambung pada perdagangan Jumat (11/1), minyak mentah menjadi lebih tidak menguntungkan karena lebih mahal bagi para pedagang dan investor.

Namun, baik minyak mentah WTI maupun Brent membukukan kenaikan mingguan untuk minggu kedua berturut-turut, dengan minyak mentah AS naik hampir 8,0% dan Brent naik sekitar 6,0%.

Mengimbangi dampak politik yang merugikan, jumlah rig pengeboran minyak di Amerika Serikat turun empat rig. Penurunan mingguan kedua, karena meningkatnya kehati-hatian di antara produsen minyak dalam rencana pengeboran mereka untuk 2019, menurut perusahaan jasa energi AS Baker Hughes pada Jumat (11/1) seperti dikutip Xinhua yang dilansir antaranews.com. (RA)