JAKARTA – Pemerintah Indonesia mempercepat pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah guna memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global. Apalagi setelah jalur utama distribusi minyak mentah di timur tengah, Selat Hormuz jadi pusat ketegangan dan saat ini ditutup oleh Iran.
Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa rencana tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan untuk segera direalisasikan.
“Saya udah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” ujar Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Rabu malam (4/3).
Menurutnya, pembangunan storage minyak mentah menjadi langkah strategis agar Indonesia tidak terus bergantung pada negara lain. Indonesia selama ini sebenarnya mendapatkan suplai melalui tangki – tangki minyak yang ada di Singapura. Namun Singapura bukan negara penghasil minyak dan tetap bergantung pada pasokan dari kawasan lain seperti Timur Tengah.
“Tapi saya punya keyakinan tidak akan jauh beda dengan Indonesia. Karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brazil. Sebagian juga mereka ambil dari Malaysia. Sebagian bisa ambil dari Amerika. Dan melakukan trading seperti ini biasanya itu mencari mana yang lebih ekonomis dan mana lebih cepat,” jelasnya.
Di tengah situasi geopolitik yang dinilai tidak stabil, Bahlil memastikan pemerintah telah menyiapkan berbagai alternatif untuk menjamin ketersediaan energi nasional.
“Saya meyakinkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tahu geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tapi untuk kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk ketersediaan BBM dan LPG, insyaallah aman. Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik, dengan hati-hati,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa investasi untuk proyek tersebut sudah tersedia dan melibatkan kombinasi sumber pendanaan dalam negeri dan luar negeri.
“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Udah siap. Enggak (bukan Amerika). Investasinya bisa dari, di-blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari Amerika,” tegas Bahlil.



Komentar Terbaru