INDRAMAYU – Pemerintah akhirnya buka suara terkait kelanjutan rencana produksi batu bara pada tahun ini dengan telah disetujuinya Rencana Kerja Anggaran dan Biaya (RKAB) untuk komoditas batu bara. Persetujan ini sangat krusial karena menjelang berakhirnya masa relaksasi produksi sebesar 30% dari rencana produksi yang diajukan pada 31 Maret 2026.

Tri Winarno, Dirjen Mineral dan Batu bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan memang belum semua RKAB yang disetujui pemerintah, dan per hari ini (12/3) sudah hampir 50% dari rencana kuota produksi batu bara sudah disetujui oleh Menteri ESDM.

“RKAB batu bara sekarang sekitar 250 – 300 juta ton, hampir 300 juta ton lah kira-kira. Yang sudah disetujui ya. Sekitar hampir 300 jutaan ton lah,” kata Tri disela kunjungan jajaran Kementerian ESDM di kilang Balongan, Kamis (13/3).

Sayangnya Tri belum bisa mendetailkan perusahaan mana saja yang sudah disetujui RKAB nya. Namun nama-nama besar seperti Adaro dan BUMN yakni PT Bukit Asam Tbk sudah mendapatkan persetujuan. “Eks PKP2B ada (sudah disetujui RKAB), tapi ada juga yang belum. Arutmin belum,” ungkap Tri.

Pemerintah memastikan untuk memangkas kuota produksi batu bara tahun 2026 di level 600 jutaan ton. Kebijakan itu ditempuh sebagai bagian dari strategi untuk menaikkan lagi harga komoditas batu bara dunia yang dalam beberapa bulan terakhir terus tertekan.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan Indonesia merupakan pemasok utama batu bara dunia.

“Batu bara yang diperdagangkan di global itu kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Nah, dari 1,3 miliar ton itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau setara kurang lebih sekitar 43%. Akibatnya apa? Supply and demand itu tidak terjaga. Akhirnya harga batu bara turun,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/1).

Untuk bisa mendorong harga, maka secara teori produksi harus diturunkan. Indonesia bakal memangkas produksi batu bara tahun ini hingga kurang lebih 600 juta ton.

“Kita akan melakukan revisi KAB. Jadi produksi kita akan turunkan. Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber di alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Kurang lebih jadi 600 jutaan ton,” jelas Bahlil.

Pada tahun 2025, total batu bara yang diproduksikan Indonesia tembus 790 juta ton dengan rincian untuk diekspor sebesar 514 juta ton atau sekitar 65,1% dari total produksi. Sementara untuk domestik sebesar 254 juta ton atau 32% dan sisanya 22 juta ton atau 2,8% sebagai cadangan stok.