JAKARTA – Setelah terkatung selama lebih dari 10 tahun akhirnya rencana untuk mengalirkan gas dari wilayah Natuna ke tanah air melalui Pulau Pemping dan Batam akan segera terealisasi. Hal itu tidak lepas dari pembicaraan intens yang diinisasi oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Ushaa Hulu Migas (SKK MIGAS) bersama dengan Medco selalu produsen gas dengan PLN Energi Power Indonesia (PLN EPI) yang membangun pipa ke pulau Pemping.

Kesepakatan Tie In atau penyambungan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) – Pemping antara PT. Medco sebagai operator JV Group Pipa Transmisi Gas Offshore WNTS ( West Natuna Transportation System) dan PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) setelah keduanya teken TIA ( Tie-in Agreement) & Operating Agreement.

Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas optimistis gas Natuna sudah bisa mengalir pada semester I tahun ini karena konstruksi ditargetkan tidak akan memakan banyak waktu.

Menurutnya Konstruksi WNTS – Pemping diperkirakan tidak akan memakan banyak waktu karena memang jarakny tidak terlalu jauh sehingga maksimal pada semester tahun ini pembangunan pipa ditargetkan sudah rampung. “Dalam semester-1 tahun ini gasnya onstream mengalir dari Natuna kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi,” tegas Djoko kepada Dunia Energi (30/1).

Pipa WNTS merupakan pipa yang terhubung dari Blok A Natuna yang hasil gasnya di ekspor ke Singapura. Pemerintah sudah lama memiliki rencana untuk membuat pipa T di antara WNTS dan menyambungnya, untuk membawa gas Natuna kembali ke Indonesia melalui Pulau Pemping di Batam.

Dalam rencana awal pipa sepanjang 5 km dan berukuran 16 inch dengan kapasitas maksimal bisa mencapai 120 MMSCFD yang akan dibangun tersebut nantinya akan menghubungkan WNTS ke Pulau Pemping, sehingga gasnya bisa digunakan untuk PLN Batam.

Lebih lanjut Djoko menceritakan bahwa pembahasan TIA ini berlangsung sangat alot sejak lebih dari 10 tahun yang lalu tidak pernah selesai, khususnya terkait Clausul Liabilities yang semula Unlimeted Liabilites menjadi Limited Liabilities.

“Yang semula nilainya ratusan juta dollar amerika kini turun hanya di bawah US$100 juta dan nilai premi asurannya hanya +/- 2% ( kurang dari US$2 juta) yang akan ditanggung bersama antara PLN-EPI dan KKKS JV WNTS,” jelas Djoko.

Menurut Djoko nilai Premi Asuransi seharusnya sudah terbit dari Pialang Asuransi di Inggris, jumat (30/1) sudah bisa dilakukan penandatanganan TIA. “Dan bulan depan sebelum hilal terlihat pertanda bulan suci Ramadhan datang akan dilakukan Groundbreaking dimulainya konstruksi Fisik Pembangunan Pipa WNTS-Pulau Pemping,” ujar Djoko.

Pembangunan pipa gas dari ruas West Natuna Transportation System (WNTS) ke Pulau Pemping, Kepulauan Riau sempet mangkrak selama bertahun-tahun. Padahal proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2017 silam. Kini proyek yang sudah lama mangkrak itu kembali berlanjut bahkan akhirnya gas mengalir lagi ke tanah air segera terwujud.

“Terukir Sejarah untuk pertama kalinya gas dari laut Natuna kembali mengalir ke bumi Merah Putih melalui pipa WNTS-Pulau Pemping dan Batam, untuk menambah energi menerangi negeri,” kata Djoko.