JAKARTA – Kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di jalur Grissik – Duri pada awal tahun 2026 ternyata berbuntut panjang. Kebocoran gas yang pertama kali terjadi terdeteksi pada 2 Januari 2026 itu membuat Indonesia kehilangan produksi minyak total sebanyak 2 juta barel akibat tidak maksimalnya produksi produksi dari blok Rokan.

“Pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) disela rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1).

Lebih lanjut Bahlil menegaskan bakal memberikan teguran hingga sanksi kepada para pihak yang bertanggung jawab atas lambannya pemulihan kebocoran sehingga mengakibatkan Indonesia kehilangan lifting minyak dalam jumlah besar.

“Karena saya anggap itu sebuah betul sebuah kecelakaan tapi ada sebuah tidak ikhtiaran dari kami. Tapi apapun ceritanya itu kesalahan kami,” jelas Bahlil.

Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan gas sudah mulai mengalir sekitar dua hari lalu tapi dengan tekanan yang terbatas dan dalam tahap uji coba keandalan pipa.

Blok Rokan kata Laode dipastikan akan kembali memproduksi minyak dalam kapasitas normal dikisaran 150 ribuan barel per hari (bph) setelah selama beberapa pekan sejak 2 Januari 2026 produksi hanya dikisaran 60 ribu – 70 ribuan bph.

Namun demikian pemulihan produksi minyaknya berlangsung secara bertahap karena gas yang mengalir juga bertahap. “Ya kan pengirimannya (gas) bertahap, tentu di sana juga pemulihannya (produksi minyak) bertahap juga,” ungkap Laode. (RI)