JAKARTA – Pemerintah tengah mengkaji untuk tetap bisa menerapkan mandatori campuran 50% biodiesel dengan solar atau B50 pada tahun ini. Namun dalam kajian tersebut pemberlakuannya dijalankan secara bertahap.

Eniya Listiani Dewi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan saat ini tahapan uji jalan B50 masih berlangsung dan untuk segmen otomotif baru menempuh jarak 20 ribuan km atau masih belum setengahnya. Total jarak yang wajib dilahap agar uji jalan memenuhi persyaratan adalan 50 ribu km.

Untuk segmen lainnya ternyata juga masih belum rampung atau bahkan belum memulai tahapan uji teknis. Untuk segmen kendaraan tambang uji jalan baru saja dimulai di Kalimantan. Kemudian kereta api baru akan dilakukan uji coba penggunaannya setelah masa lebaran Idul Fitri tahun ini. Itu pun baru akan selesai dijadwalkan pada akhir tahun atau bulan Desember. Sementara untuk segementasi kapal laut juga belum dilakukan uji coba dan baru akan dilakukan uji statis oleh pemerintah.

Kemudian uji coba juga akan dilakukan di pembangkit listrik. Dalam hal ini melalui penggunaan mesin genset yang juga baru bisa dimulai setelah perayaan idul fitri. Selanjutnya ada segmen alat pertanian. Tahapan uji statis sendiri belum dilakukan namun menurut Eniya kelompok tani berencana untuk melakukan uji coba secara mandiri. “Kalau enggak salah kelompok pertanian mau mencoba, mencoba dia melakukan sendiri. Tapi kan tergantung musim, iya tergantung musim masalahnya itu. Itu juga perlu satu tahun. Tergantung musim,” kata Eniya saat ditemui di kantor Direktorat EBTKE, Jakarta pada Selasa (10/2/2026).

Pemerintah masih belum putus asa dan tengah mengkaji untuk menerapkan B50 pada tahun ini secara bertahap, misalnya untuk segmen yang sudah merampungkan seluruh rangkaian uji coba. Rencana ini nantinya akan disampaikan pada menteri ESDM.

“Kalau otomotif nanti berakhir di Juli. Tetapi selain otomotif berakhir di Desember. Jadi masih perlu lama. Nah nanti di Juli kita laporkan ke Pak Menteri, memang mau ini enggak, atau per segmen, atau per area bagaimana?. Seperti itu kan alternatif,” jelas Eniya.

Sejak awal sebenarnya banyak pihak tidak terlalu bersemangat dengan target penerapan Biodiesel 50% atau B50. Masih banyak pekerjaan rumah dalam mempersiapkan bahan bakar berbasis nabati ini. Sejak mandatori diberlakukan keluhan yang sama selalu muncur. Masalah di kendaraan. Hanya saja pemerintah sudah kadung “PD” dan tidak mau mundur hanya karena “suara” segelintir pihak yang menyuarakan keresahan akan masalah yang kerap timbul di kendaraannya.

Dorongan B50 tidak lepas dari strategi pemerintah menekan impor bahan bakar minyak, khususnya solar. Pemerintah sempat sesumbar dengan menargetkan penerapan B50 pada 2026 sebagai langkah untuk menghilangkan impor solar secara total. Pemerintah bahkan menyebut kebijakan ini sebagai upaya menuju kemandirian energi nasional.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjelaskan implementasi kebijakan biodiesel B40 berhasil mengurangi impor solar sebesar 3,3 juta KL pada tahun 2025. Selain itu, kebijakan ini juga menghemat devisa Rp130,21 triliun dan menurunkan emisi karbon hingga 38,88 juta ton CO2 ekuivalen.

“Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton” kata Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja sektor ESDM tahun 2025, Kamis (8/1/2026). (RI)