JAKARTA — Pemerintah mulai mewaspadai dampak eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang libatkan Iran vs Amerika – Israel terhadap stabilitas pasokan dan harga energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG). Meski demikian, pemerintah memastikan harga energi masih tetap stabil hingga periode Ramadan dan Idul Fitri.

Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengatakan bagi Indonesia dampak konflik timur tengah yang terjadi tidak secara langsung dirasakan karena pola suplai Indonesia.

“Kita lebih menyiapkan after-nya jadi after dari RAFI (Ramadan & IdulFitri) ini kita siapkan karena memang dampaknya itu akan nanti bisa kita rasakan pada mulai April. Oleh karena itu langkah-langkah penting untuk tersebut sudah kita lakukan bagaimana menyiapkan stok yang memadai untuk BBM, LPG dan juga crude oil-nya,” ungkap Laode di kilang Balongan (12/3).

Ia menegaskan pemerintah masih terus memantau perkembangan harga minyak dunia dan kondisi rantai pasok energi global sebelum menentukan langkah kebijakan lebih lanjut terkait harga BBM maupun LPG di dalam negeri.

“kalau kita perhatikan kan kemarin sempat tinggi lalu ada pembicaraan antara Trump dan Putin menyebabkan turun lagi mungkin kalau diperhatikan seperti itu jadi dinamika ini masih menjadi perhatian kita tapi yang paling penting dari pemerintah adalah sampai dengan saat ini belum ada rencana untuk menaikkan harga, jelas Laode.

Menurutnya, pemerintah sebelumnya telah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM dan LPG selama periode Ramadan hingga Lebaran guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi. Namun kondisi setelah memasuki April masih akan dievaluasi mengikuti perkembangan situasi global.

Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia, terutama karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi energi global.

Bagi Indonesia, potensi dampak tersebut menjadi perhatian serius karena kebutuhan energi domestik masih bergantung pada impor, terutama untuk LPG. Sebagian besar pasokan LPG nasional berasal dari pasar internasional, termasuk dari kawasan Timur Tengah. Namun pemerintah menegaskan sudah memiliki jalan keluar untuk masalah pasokan dengan mengalihkan sumber ke Amerika Serikat.

Jika konflik berkepanjangan dan memicu lonjakan harga minyak dunia, tekanan terhadap biaya impor energi berpotensi meningkat dan pada akhirnya mempengaruhi kebijakan energi domestik.

Meski demikian, Laode menegaskan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional, termasuk memastikan distribusi energi tetap berjalan normal serta memantau dinamika pasar global secara intensif. (RI)