JAKARTA — Ketersediaan crude oil sebagai bahan baku produksi bahan bakar minyak (BBM) di kilang milik PT Pertamina (Persero) dipastikan berada dalam kondisi aman. Manajemen menyebut stok minyak mentah yang berada di kilang saat ini berada pada level operasi normal dan tetap terjaga melalui sistem rantai pasok yang terintegrasi.

Mars Ega Legowo Putra, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menjelaskan bahwa persediaan minyak mentah di kilang pada kondisi normal operasi berkisar sekitar 11–12 hari.

“Stok crude di kilang saat ini dalam kondisi normal operation, yakni di kisaran 11 sampai 12 hari. Tidak mungkin seluruh pasokan kita tampung dalam jumlah besar di kilang,” kata Ega.

Ia menjelaskan bahwa stok yang tercatat di kilang hanyalah bagian dari keseluruhan sistem rantai pasok minyak mentah. Sebagian pasokan lainnya masih berada dalam perjalanan alias di kapal menuju kilang maupun berada di fasilitas produksi di hulu.

Crude lainnya ada di atas kapal yang sedang menuju ke kilang. Ada juga yang berada di lokasi subholding hulu yang melakukan produksi minyak,” ujarnya.

Ega menegaskan bahwa kondisi stok 11–12 hari tersebut bukan berarti pasokan akan habis setelah periode itu. Sebab, pasokan minyak mentah terus mengalir melalui sistem distribusi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Ini perlu kami jelaskan bahwa ini bukan berarti 12 hari kemudian habis. Tidak. Ini adalah satu rangkaian supply chain,” jelasnya.

Pertamina juga mengoperasikan kilang dalam mode produksi maksimal. Saat ini perusahaan lebih menekankan pada peningkatan volume produksi dibandingkan optimalisasi keuntungan kilang.

“Produksi kilang saat ini sudah pada posisi maksimal. Kilang kami operasikan untuk menghasilkan kuantitas sebanyak-banyaknya. Saat ini bukan lagi berorientasi pada optimasi profit kilang,” kata Ega.

Saat ini, produksi kilang Pertamina tercatat mencapai sekitar 1,1 juta barel per hari dan untuk menjaga keberlanjutan pasokan, perusahaan juga melakukan pengadaan minyak mentah secara berkala.

“Saat ini berproduksi kurang lebih 1,1 juta barel per hari. Untuk pengadaan yang kita siapkan di Januari, itu sebetulnya nanti Februari juga kita review lagi, kita isi lagi. Nanti Maret kita pengadaan lagi, isi lagi,” ungkap Ega.

Untuk menjaga stabilitas pasokan minyak mentah, pemerintah juga memberikan dukungan kebijakan agar produksi minyak dalam negeri diprioritaskan untuk diolah di kilang Pertamina. Kebijakan tersebut berlaku bagi minyak yang berasal dari pemerintah maupun kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta.

“Seluruh crude dalam negeri, baik yang menjadi bagian pemerintah maupun milik KKKS swasta, diprioritaskan untuk diolah di Pertamina. Ini adalah upaya memaksimalkan sumber daya alam yang ada di negara kita untuk diolah di kilang Pertamina, sehingga bisa memberikan layanan energi sebesar-besarnya kepada masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Pertamina juga memanfaatkan kekuatan armada perkapalan internal untuk memastikan distribusi energi tetap lancar. Ega menyebut koordinasi dilakukan dengan subholding perkapalan agar armada kapal difokuskan pada pengangkutan energi untuk kebutuhan domestik.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pertamina memastikan seluruh rantai pasok energi tetap terjaga, terutama selama periode meningkatnya konsumsi energi pada Ramadan dan menjelang Idulfitri.

“Kami akan mengerahkan 100% sumber daya yang kami miliki untuk memastikan keamanan pasokan energi, khususnya selama Ramadan dan Idulfitri,” kata Ega.