JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara (Malut).

Riki Ibrahim, dosen senior Magister Energi Terbarukan Unsada, angkat bicara sebagai ahli geothermal. Ia ingin publik memahami fakta bahwa investasi Ormat meningkat, industri panas bumi semakin inovatif dan kompetitif.

“Memang lahir di Israel, tapi hari ini kepemilikannya tersebar ke publik global, sahamnya dimiliki jutaan orang dari guru pensiunan di Ohio, pegawai negeri di Jepang, hingga ibu rumah tangga di Indonesia,” ujar Riki, mantan Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, kepada Dunia Energi Rabu(25/2).

Bagian dari target Net Zero Emission (NZE);2060, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026, Ormat resmi mengelola WKP Telaga Ranu Halmahera Barat, Maluku Utara, berkapasitas 40 Megawatt (MW).

Riki menuturkan, tahun 1965 Lucien dan Yehudit Bronicki di Israel menciptakan teknologi ORC yang menjadi jantung Ormat, kini digunakan di pembangkit panas bumi dunia, termasuk Indonesia. Sejarah pembangkit listrik nuklir pun terjadi hal serupa, Enrico Fermi, perintis reaktor pertama, justru harus hengkang dari Italia karena istrinya Yahudi. “Dua kisah ini menegaskan: sains lahir dari keberagaman, tak patut disematkan pada satu etnis. Ilmu pengetahuan, pada akhirnya, milik seluruh umat manusia,” tutur Riki.

Pada tahun 2004, anak usaha Ormat di Amerika Serikat (AS), Ormat Technologies, melantai di New York Stock Exchange dengan kode ORA. Struktur perusahaan kemudian disederhanakan pada 2015 ketika Ormat Technologies mengakuisisi perusahaan induknya sendiri.

Riki mengatakan titik besar terjadi Mei 2017, ORIX Corporation, perusahaan raksasa Jepang, mengakuisisi saham gabungan dua pemegang saham terbesar, FIMI Fund dan Bronicki Investment Fund, senilai US$627 juta. Akuisisi itu menjadikan ORIX Jepang dan publik sebagai pemegang saham terbesar Ormat sehingga bukan lagi milik Israel, melainkan sempat perusahaan global dengan pemilik dari Negeri Sakura.

Namun demikian, kata Riki, pada 2026, kursi pengendali Ormat Technologies tidak lagi berada di tangan ORIX Jepang. ORIX Corporation yang dulu mengakuisisi Ormat pada 2017, kini kepemilikannya menyusut drastis menjadi hanya 0,62% hingga 4,92%.

“Justru dua raksasa investasi Amerika, BlackRock dan Vanguard perusahaan publik, sahamnya dimiliki publik global yakni guru pensiunan Ohio, pegawai negeri Jepang, hingga ibu rumah tangga Indonesia, yang kini menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan berkisar antara 11,47% hingga 14,67% untuk BlackRock dan 9,07% hingga 9,99% untuk Vanguard,” ungkap Riki.

Lebih lanjut Riki menyampaikan saat ini, 95,49 % saham Ormat dikuasai institusi keuangan global. Artinya, kendali perusahaan sepenuhnya berada di bawah modal institusional dengan pusat gravitasi di Amerika.

“Investasi Ormat di Indonesia, Turki, dan Kenya, tiga negara muslim, membuktikan bahwa teknologi tak pernah mempersoalkan agama. Di tengah panasnya geopolitik dunia, teknologi ORC justru makin meluas,” kata Riki.

Ia menyebut Turki yang menjadi pendukung nomor satu kemerdekaan Palestina, bahkan telah memasok 45 pembangkit dengan turbin Ormat sejak 2006, total kapasitas lebih 900 MW. Kerja sama energi terbarukan berjalan profesional dan saling menguntungkan, tanpa peduli dari mana asal penemunya.

Ormat Technologies, perusahaan publik AS asal Reno, Nevada, memiliki lebih dari 200 proyek berkapasitas total 3,2 GW. Kepemilikan sudah bergeser pemilik utama termasuk dari Jepang, manajemen di Amerika, teknologi lahir di Israel, dan listriknya menerangi ⁠Portugal, ⁠Canada, ⁠Chile, ⁠China, ⁠Germany, ⁠Iceland, India, Italy, ⁠Japan, ⁠Kenya, AS (terbanyak), ⁠New Zealand, ⁠Philippines, ⁠South Africa, Turki, Indonesia, dan lainnya.

“Inilah wajah asli globalisasi, uang, manusia, dan teknologi berbaur tanpa peduli batas negara. Teknologi bukan sekadar buatan tangan manusia karena selama masih membawa manfaat kepada banyak manusia, berarti Tuhan meridainya,” kata Riki.

Ia menekankan bahwa di Indonesia PT Ormat Geothermal Indonesia sudah lama menancapkan kaki. Namanya muncul di sejumlah proyek besar, yakni Sarulla 330 MW yang mulai beroperasi 2017, kemudian Gunung Salak dan Ijen yang masing-masing 15 MW dan 35 MW, keduanya telah menyala tahun 2025.

Namun, kata dia, perlu dicermati bahwa Ormat tidak hanya berperan sebagai pedagang ORC, tetapi juga sebagai pengembang geothermal yang serius di Indonesia, yang menunjukkan komitmen investasinya.

“Kedepan, pendirian pabrik Ormat di Indonesia perlu didorong karena akan mendatangkan investasi dan alih teknologi, meningkatkan TKDN sektor panas bumi, serta menekan harga agar lebih kompetitif dibanding teknologi Flash Condensing. Disinilah letak keseriusan membangun kemandirian energi nasional,” kata Riki. (RA)