JAKARTA – Utusan Khusus Presiden di Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa Indonesia akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebesar 7 Giga Watt (GW), sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Hashim menyebut dalam RUPTL PLN ditetapkan sebanyak 70 GW listrik berasal dari energi baru terbarukan (EBT). “Nanti ada 7 GW dihasilkan dari tenaga nuklir. Ini hal baru, 7 GW tenaga nuklir,” ujar Hashim dalam sebuah acara di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Hashim mengatakan semua negara maju memiliki pembangkit listrik dari tenaga nuklir itu. Ia mengungkapkan bahwa Jepang juga mengaktifkan lagi pembangkit nuklirnya.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyusun regulasi yang mengatur mengenai pengembangan PLTN di Indonesia. Aturan tersebut nantinya akan berbentuk Peraturan Presiden (Perpres).
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan Perpres tersebut saat ini sudah berada di meja Presiden dan tinggal menunggu pengesahan.
Diketahui Institut Teknologi PLN (ITPLN) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT PLN (Persero) Pusat Penelitian dan Pengembangan (PLN Puslitbang) telah memperkuat sosialisasi rencana pembangunan PLTN melalui kegiatan Capacity Building Awareness Nuklir 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman publik dan kesiapan sumber daya manusia menghadapi pengembangan energi nuklir nasional.
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Ahsin Sidqi, mengatakan teknologi nuklir saat ini semakin adaptif terhadap kebutuhan energi, termasuk untuk skala industri.
Menurut Ahsin, pengembangan PLTN sejalan dengan agenda besar kemandirian energi nasional dan nationality pride yang kini didorong visi pemerintah. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto dan jajaran kabinet sudah vokal menyuarakan energi nuklir dalam berbagai forum internasional.
“Sekarang perguruan tinggi, PLN, dan asosiasi sedang bergerak bersama untuk membangun kesadaran publik. Ini momentum Indonesia mandiri energi,” kata dia.
Ahsin juga menegaskan Indonesia memiliki modal sumber daya alam dan sumber daya manusia. Cadangan uranium terdapat di Kalimantan Barat, sementara thorium ditemukan di Bangka Belitung dari sisa tambang monasit.
“Bahan bakarnya relatif sedikit vokumenya dengan besarnya daya listrik yang dibangkitkan dan seluruhnya diawali ketabahan oleh IAEA. Kalau Indonesia masuk nuklir, kita harus menjadi bagian penting negara maju dunia,” ujarnya.
Dari sisi SDM, Ahsin menyebut diaspora insinyur nuklir Indonesia cukup banyak dan tersebar di berbagai negara. Selain itu, ribuan lulusan nuklir dari UGM dan ITB dinilai siap dilibatkan jika keputusan pembangunan PLTN telah ditetapkan.
“Masalah kapasitas dan kapabilitas manusia tidak diragukan. Sekarang tinggal menunggu keputusan pemerintah,” katanya.
General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh mengungkapkan satu unit PLTN membutuhkan sekitar 200 tenaga inti, di luar tenaga pendukung. Dalam rencana awal, PLTN pertama ditargetkan berkapasitas total 500 megawatt di dua lokasi, yakni Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.(RA)




Komentar Terbaru