JAKARTA – Laporan tahunan terbaru Renewables 2025 dari International Energy Agency (IEA) memprediksikan kapasitas listrik energi terbarukan global akan lebih dari dua kali lipat pada 2030. Secara kumulatif, kapasitas energi terbarukan dunia diproyeksikan bertambah 4.600 gigawatt (GW) hingga akhir dekade ini. Angka ini setara dengan total kapasitas pembangkit listrik China, Uni Eropa, dan Jepang jika digabungkan.

Pertumbuhan ini didominasi oleh tenaga surya, terutama solar PV, yang terus melaju berkat biaya yang makin murah dan proses perizinan yang relatif cepat. Namun, lonjakan ini juga terjadi di tengah tekanan besar, antara lain rantai pasok yang ketat, tantangan integrasi ke jaringan listrik, biaya pembiayaan yang naik, serta arah kebijakan yang berubah-ubah di sejumlah negara kunci.

IEA mencatat sekitar 80 persen tambahan kapasitas energi terbarukan global hingga 2030 akan berasal dari solar PV. Setelah itu menyusul angin, hidro, bioenergi, dan panas bumi.

“Ini kabar yang sangat menyegarkan di tengah isu krisis iklim. Bayangkan, tambahan 4.600 GW itu bukan jumlah yang kecil—itu seperti membangun tulang punggung energi baru untuk seluruh planet hanya dalam hitungan tahun,” kata Surya Darma Ketua ICRES (Indonesia Center for Renewable Energy Studies), kepada Dunia Energi Selasa(3/2/2026).

Surya Darma menilai laporan renewables 2025 dari IEA ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa transisi energi bukan lagi pilihan, melainkan arus utama. Prediksi ini membawa ‘angin segar’ sekaligus tekanan bagi kebijakan energi nasional. Adapun dampaknya meliputi penurunan biaya teknologi, karena kapasitas global meledak (terutama solar PV), skala ekonomi akan membuat harga panel surya dan baterai penyimpan energi (energy atorage system) semakin murah bagi pasar Indonesia.

Surya Darma menjelaskan dampak lainmya adalah akses pendanaan hijau. Tren global ini memicu lembaga donor dan investor internasional untuk lebih agresif mengalihkan modal dari fosil ke proyek energi terbarukan di negara berkembang, termasuk melalui skema seperti JETP (Just Energy Transition Partnership).

“Akan berdampak pada percepatan target emisi. Indonesia kemungkinan akan merasa perlu menyelaraskan kembali target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) agar tidak tertinggal dari standar rantai pasok global yang semakin hijau,” jelasnya.

Ia mengakui hingga saat ini, kontribusi Indonesia secara kuantitas memang belum mendominasi panggung dunia jika dibandingkan raksasa seperti China atau Uni Eropa. Namun, posisi Indonesia sangat strategis secara kualitatif.

Surya Darma menuturkan sebagai raksasa geothermal, Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia. Kontribusi di sektor ini adalah salah satu yang paling signifikan secara global. Indonesia juga menjadi paru-paru karbon dan bioenergi. Melalui pengembangan B35/B40 dan potensi Carbon Capture Storage (CCS), Indonesia berperan sebagai penyeimbang emisi global.

Surya Darma menyebur Indonesia sebagai menjadi pusat rantai pasok hijau. Dengan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia adalah pemain kunci dalam produksi baterai kendaraan listrik (EV) dunia, yang merupakan komponen vital dari ekosistem energi terbarukan global.

“Jujur saja, prediksi IEA adalah katalis, bukan tongkat ajaib. Prediksi ini membantu mengatasi kendala ekonomi (biaya), tetapi kendala struktural tetap harus diselesaikan secara internal,” ungkapnya.

Sederet kendala internal yang dihadapi, antara lain masalah integrasi grid. Prediksi IEA menekankan pertumbuhan surya, namun tantangan di Indonesia adalah intermitensi (listrik surya tidak stabil). “Kita masih butuh investasi besar di teknologi Smart Grid,” ujar Surya Darma.

Ia menambahkan kendala regulasi dan perizinan juga perlu menjadi perhatian. Meskipun IEA mencatat perizinan global makin cepat, di Indonesia sinkronisasi antara kebijakan pusat, daerah, dan PLN masih sering menjadi hambatan bagi pengembang swasta.

“Masalah lainnya adalah elebihan pasokan fosil. Indonesia masih memiliki tantangan oversupply listrik dari pembangkit batubara. Prediksi global tidak otomatis membatalkan kontrak-kontrak pembangkit fosil yang sudah ada tanpa kebijakan pensiun dini yang kuat,” ujar Surya Darma .

Sesuai laporan IEA, panas bumi (geothermal) diproyeksikan mencetak rekor pemasangan baru di sejumlah pasar utama, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Indonesia, serta berbagai negara berkembang lainnya. Di saat bersamaan, tantangan integrasi jaringan listrik mendorong minat baru pada pumped-storage hydropower, yang pertumbuhannya diperkirakan hampir 80 persen lebih cepat dalam lima tahun ke depan dibanding lima tahun sebelumnya.

Di Asia, Timur Tengah, dan Afrika, energi terbarukan tumbuh lebih cepat berkat kombinasi biaya yang makin kompetitif dan dukungan kebijakan yang lebih agresif. Banyak pemerintah memperkenalkan program lelang baru dan menaikkan target bauran energi bersih.

India disebut berada di jalur untuk menjadi pasar pertumbuhan energi terbarukan terbesar kedua di dunia setelah China, sekaligus diperkirakan mampu mencapai target ambisiusnya pada 2030 tanpa banyak hambatan.

Di tingkat korporasi, kepercayaan terhadap energi terbarukan masih terjaga. Mayoritas pengembang besar mempertahankan bahkan menaikkan target pemasangan kapasitas hingga 2030 dibanding tahun lalu. Ini mencerminkan ketahanan dan optimisme sektor tersebut.

Namun, angin lepas pantai (offshore wind) jadi pengecualian. Prospek pertumbuhannya direvisi turun sekitar seperempat dibanding laporan tahun lalu, akibat perubahan kebijakan di pasar utama, hambatan rantai pasok, dan biaya yang melonjak.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengungkapkan dominasi surya dalam beberapa tahun ke depan. Ia menjelaskan pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global dalam beberapa tahun ke depan akan didominasi oleh solar PV, namun angin, hidro, bioenergi, dan panas bumi juga akan berkontribusi. Solar PV berada di jalur untuk menyumbang sekitar 80 persen dari peningkatan kapasitas energi terbarukan dunia dalam lima tahun ke depan.

Lonjakan surya tidak hanya terjadi di pasar mapan, tetapi juga di ekonomi seperti Arab Saudi, Pakistan, dan sejumlah negara Asia Tenggara. Namun, ia mengingatkan pembuat kebijakan agar tidak lengah.

“Seiring meningkatnya peran energi terbarukan dalam sistem kelistrikan di banyak negara, pembuat kebijakan perlu memberi perhatian serius pada keamanan rantai pasok dan tantangan integrasi jaringan,” demikian disampaikan Fatih Birol dalam laporannya.

Meski mematok proyeksi besar, IEA sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan kapasitas energi terbarukan global dibanding tahun lalu. Penyebab utamanya dari Amerika Serikat dan China.

Di Amerika Serikat, penghentian lebih cepat insentif pajak federal serta perubahan regulasi lainnya memangkas ekspektasi pertumbuhan energi terbarukan hampir 50 persen dibanding proyeksi sebelumnya. Sementara di China, peralihan dari tarif tetap ke sistem lelang memengaruhi keekonomian proyek dan menurunkan proyeksi pertumbuhan pasar domestik.

Penurunan ini sebagian tertutup oleh lonjakan di wilayah lain—terutama India, Eropa, dan sebagian besar negara berkembang—yang mendapat dorongan dari kebijakan baru, volume lelang yang lebih besar, perizinan lebih cepat, dan maraknya pemasangan panel surya atap.

IEA mencatat, perjanjian pembelian listrik korporasi (corporate PPA), kontrak utilitas, dan pembangkit merchant kini menyumbang 30 persen dari ekspansi kapasitas energi terbarukan global hingga 2030, dua kali lipat dibanding proyeksi tahun lalu.

Di balik euforia pertumbuhan, ada risiko laten yang belum terpecahkan. Rantai pasok global untuk solar PV dan elemen tanah jarang, yang penting untuk turbin angin—masih sangat terkonsentrasi di China. Bahkan dengan investasi diversifikasi yang mulai muncul di berbagai negara, dominasi China pada segmen produksi kunci diperkirakan tetap di atas 90 persen hingga 2030.

Lonjakan energi terbarukan yang bersifat variabel juga menekan sistem kelistrikan. Fenomena curtailment dan harga listrik negatif mulai muncul di semakin banyak pasar. Ini tanda bahwa investasi di jaringan, penyimpanan energi, dan pembangkit fleksibel sudah mendesak.

Sejumlah negara merespons dengan lelang kapasitas dan penyimpanan baru. Namun, menurut IEA, langkah ini masih jauh dari cukup untuk memastikan integrasi energi terbarukan berjalan efisien dan aman.

Peran energi terbarukan di sektor transportasi dan pemanas pun diproyeksikan naik, meski tidak drastis. Di transportasi, pangsa energi terbarukan diperkirakan naik dari 4 persen menjadi 6 persen pada 2030, terutama didorong listrik terbarukan untuk kendaraan listrik di China dan Eropa. Biofuel menyumbang pertumbuhan di Brasil, Indonesia, India, dan pasar utama lainnya.

Sementara itu, pangsa energi terbarukan untuk pemanas bangunan dan industri global diperkirakan meningkat dari 14 persen menjadi 18 persen dalam periode proyeksi.(RA)