JAKARTA – Ormat Technologies Inc. disebut sudah lama mengoperasikan banyak lapangan panas bumi di Amerika Serikat (AS). Ormat termasuk pionir energi terbarukan global dan fokus pada panas bumi sejak didirikan tahun 1865.
“Mereka, Ormat, adalah pemain panas bumi yang menguasai penuh rantai pengusahaan panas bumi berawal dari penggunaan teknologi binary dengan suhu rendah dan merambah ke pengelolaan lapangan panas bumi dunia,” ungkap Surya Darma, Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (Indonesia Center for Renewable Energy Studies/ICRES), kepada Dunia Energi Rabu(25/2).
Surya Darma menjelaskan, sistem pembangkit binary ini cenderung berbeda dengan pembangkit lainya terutama yang dibangun Mitsubishi, Fuji, dan lainnya. Ormat International Inc., kata Surya Darma, merupakan manufacturer teknologi panas bumi system binary. Kemudian, mereka mengakuisisi beberapa lapangan di AS di kawasan Nevada dan California, Amerika Serikat termasuk di Hawai.
Sekarang, mereka menjadi pemain panas bumi terbesar di dunia karena selain menguasai teknologi, juga menguasai lapangan panas bumi dengan kapasitas terpasang sekitar 3400 Megawatt (MW) secara global termasuk Indonesia. Teknologi ini juga selain di Amerika, juga dipergunakan di Selandia Baru, Kenya, Guatemala, Filipina, Honduras dan Indonesia.
“Kantor pusat Ormat dan pabriknya untuk pembangkit binary ada di Reno, Nevada, AS. Teknologi binary ini sekarang sudah digpergunakan oleh berbagai negara di seluruh dunia. Sekarang teknologi yang sama juga di kembangkan oleh Iceland,” ungkap Surya Darma .
Ia mengatakan bahwa Ormat sendiri aktif di Indonesia sejak melakukan kerjasama dengan Medco Power bersama beberapa perusahaan dalam bentuk konsorsium melalui Sarulla Operation Limited (SOL) di Sumatera Utara. Di Sarulla, lapangan panas bumi dikerjakan oleh konsorsium Medco, Itochu Corporation Kyushu Electric Power Company dan Ormat International.
Lapangan panas bumi Sarulla saat ini mengoperasikan pembangkit binary milik Ormat dengan kapasitas 330 MW untuk mendukung kebutuhan listrik Sumatera melalui jaringan interkoneksi Sumatra.
Menurut Surya Darma, dengan ikut sertanya PT Ormat Geothermal Indonesia dikendalikan oleh Ormat Technologies Inc., sebagai pemenang Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Telaga Ranu di Kabupaten Halamahera Barat, Maluku Utara (Malut), semakin memantapkan perannya dalam mengembangkan panas bumi Indonesia. Sebagai informasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang WKP Telaga Ranu. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 8.K/EK.04/MEM.E/2026 tertanggal 8 Januari 2026.
“Bagi Indonesia, kehadiran Ormat tentu saja bisa dipandang dapat mempercepat upaya penggunaan panas bumi sesuai dengan target KEN (Kebijakan Energi Nasional), karena dapat memanfaatkan teknologi pembangkitan panas bumi yang memiliki variasi dari kondisi suhu rendah hingga suhu tinggi sehingga bisa lebih efisien dan optimal. Walaupun bagi Indonesia, Ormat yang awalnya berafiliasi dengan Israel akan ada pengaruhnya dalam konteks politik dan sikap Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina,” kata Surya Darma.
Ia menyebut, idealnya dari sisi pengembangan panas bumi, memerlukan spesifikasi teknis dan finansial yang sangat tinggi karenabkarakteristik feologi, alam memiliki topografi yang curam dan suhu tinggi sampai rendah, dan dominan air (liquid doimnated reservoir).
Surya Darma menekankan pengembang energi panas bumi harus menguasai high enthalpy management, advance Resources assessment dan water reinjection strategy. Untuk mendukung pendanaan yang sangat besar (capital intensive), perlu dukungan pendanaan International yang biasanya memerlukan portofolio operasional antara 200-500 MW di berbagai negara. Selain itu, juga harus bisa memanfaatkan integrasi teknologi double flash atau binary cycle seperti yang dimiliki Ormat.
“Tentu saja untuk lapangan tahapan eksplorasi seperti Telaga Ranu di Halmahera yang masih tahap eksplorasi dengan risiko eksplorasi yang sangat besar, maka pengembang sebaiknya memiliki strong balance sheet, mampu menanggung biaya awal sebelum pendanaan bank, memiliki credit rating yng solid, dan tentu saja sebaiknya memiliki pengalaman International dan transparan,” pungkas Surya Darma.(RA)


Komentar Terbaru