JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat capaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga tahun 2025 lalu sebesar 15,75% dengan penambahan kapasitas pembangkit EBT terbesar selama lima tahun terakhir tercatat mencapai 15.630 Megawatt (MW). Dengan realisasi ini maka secara resmi Indonesia telah gagal mencapai target EBT yang dipatok dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yakni sebesar 23% pada tahun 2025
Secara terperinci, kapasitas tersebut didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menyumbang sebesar 7.587 MW, disusul oleh bioenergi sebesar 3.148 MW, dan panas bumi sebesar 2.744 MW. Selain itu, kontribusi dari sumber energi lain juga terus berkembang, di antaranya tenaga surya sebesar 1.494 MW, gasifikasi batu bara sebesar 450 MW, angin sebesar 152 MW, serta pemanfaatan sampah sebesar 36 MW, dan sumber lainnya sebanyak 18 MW.
“Sebenarnya penambahan EBT ini cukup besar di tahun 2025, tetapi kalau dikonversi menjadi turun persentasenya karena ada penambahan (pembangkit) dari gas dan batu bara,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, Kamis (8/1).
Sementara itu, khusus untuk ketenagalistrikan capaian bauran EBT telah melampaui target yang sudah ditetapkan dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). “Kalau khusus di ketenagalistrikan, itu (bauran EBT) tercapai 16,3%. Itu di atas RUKN yang hanya menargetkan 15,9%,” ujar Eniya Listiyani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
Di sisi investasi, subsektor EBT dan Konservasi Energi (EBTKE) menunjukkan ketangguhan dengan realisasi mencapai US$2,4 miliar. Secara makro, sektor ESDM tetap menjadi tulang punggung penerimaan negara dengan capaian PNBP sebesar Rp138,37 triliun (108,56% dari target), yang mencerminkan pengelolaan sumber daya energi yang efektif dan berkelanjutan. (RI)



Komentar Terbaru