JAKARTA- Harga minyak mentah mulai menunjukkan tren meningkat setelah tertekan pada pekan lalu. Penguatan harga minyak itu dipicu oleh kekhawatiran investor akan perang dagang Amerika Serikat (AS)-Meksiko yang telah surut membuat proyeksi permintaan minyak kembali meningkat.

Rencana Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) melanjutkan pengurangan produksi hingga akhir 2019 juga memberi sentimen pada pergerakan harga.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2019 di New York Mercantile Exchange menembus level di atas US$ 54 per barel, naik lebih dari 0,5% daripada harga penutupan akhir pekan lalu yang ditutup di level US$ 53,99 per barel.

Pergerakan serupa terjadi pada harga minyak Brent untuk pengiriman Agustus 2019 di ICE Futures. Harga Brent menguat 0,68% ke US$ 63,72 per barel ketimbang posisi akhir pekan lalu pada US$ 63,29 per barel.

Pasar minyak kembali mendapat energi positif setelah AS dan Meksiko dikabarkan telah mencapai kesepakatan yang bisa meruntuhkan potensi perang dagang antara keduanya.

Kantor berita Reuters menyebutkan, kedua negara dikabarkan mencapai kesepakatan pada Jumat (7/6) pekan lalu setelah perundingan berjalan selama tiga hari di Washington.

Keputusan tersebut disampaikan bersama oleh delegasi kedua negara. Meksiko disebutkan telah setuju untuk menerima lebih banyak migran yang mencari suaka ke AS ketika menunggu putusan atas kasus mereka. Meksiko juga setuju untuk meningkatkan penegakan hukum untuk menahan arus imigrasi ilegal, termasuk menempatkan Garda Nasional di perbatasan bagian Selatannya.

Donald Trump, Presiden AS, sebelumnya mengancam akan mengenakan bea impor sebesar 5% terhadap produk Meksiko mulai 10 Juni apabila tidak ada kesepakatan mengenai permasalahan imigran gelap. Trump juga berencana menaikkan bea impor hingga sebesar 25%, kecuali Meksiko mengambil langkah serius mengenai masalah tersebut. Dengan demikian, potensi perang dagang baru AS dengan Meksiko setidaknya dapat dihindari.

Meski AS terus menambah pasokan, produksi minyak AS dalam setahun terakhir berfokus pada super-light oil. Para trader minyak mengatakan bahwa pasokan heavy crude yang berkurang menyebabkan perusahaan penyulingan minyak harus menghadapi mismatch untuk produksi minyak olahan. (DR)