JAKARTA – Harga minyak mentah dunia meroket pada perdagangan Senin (9/3/2026). Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak 18,98% atau US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent naik 16,19% atau US$15,01 ke level US$107,70 per barel.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan kenaikan harga minyak dunia tidak akan serta merta menaikan harga BBM khususnya yang disubsidi oleh pemerintah.

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, memastikan untuk kondisi stok sangat aman, namun yang dikhawatirkan memang dari sisi harganya. Tapi dia menjamin pemerintah tidak akan mengotak-atik harga BBM.

“Kita lagi akan me-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprensif. Tapi sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga. Karena sampai dengan hari raya ini insyaallah gak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi,” jelas Bahlil di Kementerian ESDM, Senin (9/3).

Pemerintah mengakui posisi harga minyak mentah dunia sudah melampaui batas yang ditetapkan oleh APBN. Adapun jika terjadi kenaikan batas aman keuangan negara dengan harga minyak mentah berada di kisaran US$ 80 – US$ 90 per barel.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan jika tekanan harga minyak mentah dunia meroket ke level US$ 92 per barel akibat perang Iran vs Israel-AS, maka defisit APBN bengkak di atas batas aman, yakni sampai 3,6% PDB.

“Kita sudah exercise kalau harga minyak US$ 92 selama setahun rata-rata, maka defisitnya jadi 3,6% lebih tadi,” kata Purbaya.

Bahkan Kementerian Keuangan berencana untuk memangkas anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) jika harga minyak dunia terus melonjak.

Para pakar dunia sendiri memperkirakan harga minyak dunia bisa menyentuh US$150an per barel jika perang antara Iran vs Ameriak dan Israel terus berlangsung dalam waktu yang lama.