JAKARTA – Pasar energi global memanas. Harga batu bara dunia kembali mencetak level tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada pertengahan Oktober 2026, dipicu oleh lonjakan harga LNG dan minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Kontrak berjangka batu bara Newcastle yang menjadi acuan global diperdagangkan di kisaran US$ 150 per ton, bahkan sempat menyentuh US$ 154,6 per ton. Pada perdagangan terakhir Kamis (16/10/2026), harga ditutup di US$ 152,85 per ton atau menguat 0,72%, memperpanjang reli 1,8% dalam tiga hari.
Lonjakan ini terjadi karena peralihan besar-besaran pembangkit listrik dari gas ke batu bara. Harga gas alam cair (LNG) global bergejolak naik ke kisaran US$ 15 – US$ 19 per MMBtu, bahkan sempat menyentuh US$ 22 per MMBtu akibat gangguan pasokan di Timur Tengah. Padahal sebelumnya LNG berada di kisaran US$ 9 – US$ 11,5 per MMBtu. Dengan batu bara yang 80% lebih murah dari LNG, pembeli di Asia dan Eropa berbondong-bondong meningkatkan impor menjelang musim dingin.
Badan Energi Internasional (IEA) pada September lalu memproyeksikan permintaan batu bara global akan mencapai rekor tertinggi tahun ini.
Kenaikan harga global langsung mengerek Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia periode II Oktober 2026 di semua kalori:
– Kalori Tinggi (6.322 kcal/kg GAR): US$ 126,81 per ton, naik dari US$ 122,52
– Kalori Menengah (5.300 kcal/kg GAR): US$ 93,62 per ton, naik dari US$ 90,60
– Kalori Menengah (4.100 kcal/kg GAR): US$ 66,10 per ton, naik dari US$ 63,45
– Kalori Rendah (3.400 kcal/kg GAR): US$ 54,53 per ton, naik dari US$ 43,84
Di dalam negeri, pemerintah menyesuaikan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk industri menjadi US$ 13 per MMBtu, turun dari sebelumnya yang sempat US$ 20 – US$ 23 per MMBtu, untuk menjaga daya saing industri.
Sementara itu, di pasar global, harga gas alam berjangka NYMEX / Henry Hub berada di level US$ 3,12 per MMBtu. Namun harga minyak mentah justru melonjak di atas US$ 100 per barel pada Jumat, naik lebih dari 11% dalam sepekan.
Lonjakan minyak dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Arus minyak harian di selat tersebut anjlok menjadi 11,62 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Oktober, dari level normal 17,15 juta barel. Ditambah serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia dan turunnya cadangan minyak AS sebesar 8,56 juta barel, pasokan global semakin ketat.
Di sisi pasokan batu bara, pasar terbelah dua arah. China, produsen terbesar dunia, justru mengetat. China Coal Energy melaporkan produksi turun 9,1% yoy menjadi 10,5 juta ton pada September 2026.
Sebaliknya India banjir pasokan. BUMN Coal India Limited (CIL) meningkatkan pasokan 12,5% menjadi 61,20 juta ton pada September tahun fiskal 2026/2027, dengan pasokan ke sektor listrik naik 10,63% menjadi 48,90 juta ton.(RA)




Komentar Terbaru