JAKARTA – Dorongan dan komunikasi intensif yang dilakukan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) untuk mendorong aktivitas di area-area potensial migas kembali menunjukkan hasil positif dengan dilakukannya kegiatan eksplorasi oleh raksasa perusahaan migas asal italia, ENI.

Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, mengungkapkan Presiden Direktur ENI Mirko sudah menginformasikan kepada pemerintah baik SKK Migas ataupun Kementerian ESDM komitmen ENI untuk terus melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di tanah air. “Bagi ENI, Indonesia merupakan periorotas Utama untuk Investasi pada kegiatan ENI di seluruh dunia,” kata Djoko kepada Dunia Energi, Kamis (19/3).

Lebih lanjut, Djoko menjelaskan bahwa saat ini ENI sedang melakukan survei seismik sepanjang kurang lebih 10.350 km.

“Ini merupakan seismik terpanjang sepanjang sejarah republik Indonesia dan saat ini sedang mengebor sumur Eksplorasi yaitu sumur Geliga-1. Mohon Doa Bapak Ibu semua Insya Allah Gyant Discovery,” kata Djoko.

ENI merupakan salah satu KKKS swasta dari luar negeri yang paling aktif melakukan kegiatan di Indonesia. Apalagi setelah ditemukannya potensi cadangan migas besar di sekitar kutai basin seperti lapangan Jangkrik dan Geng North.

Sekarang ENI adalah pemain kunci dalam mengembangkan proyek migas laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD) yang mangkrak ditinggal Chevron. Ini dibuktikan dengan ditetapkannya Final Investment Decision (FID) proyek IDD setelah baru pada 2024 pemerintah memberikan persetujan rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD).

ENI resmi mendapatkan persetujuan Final Investment Decision (FID) untuk pengembangan proyek gas Gendalo–Gandang (South Hub) serta Geng North–Gehem (North Hub) di lepas pantai Kalimantan Timur dengan nilai investasi lebih dari US$15 Miliar. Keputusan investasi ini diambil hanya 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024.

Proyek ini memanfaatkan teknologi produksi laut dalam serta infrastruktur yang telah ada, termasuk Jangkrik FPU dan reaktivasi Train F fasilitas pencairan gas Bontang LNG Plant, sehingga mampu meningkatkan efisiensi biaya sekaligus mempercepat waktu komersialisasi gas.

Pengembangan Gendalo dan Gandang akan dilakukan pada kedalaman laut 1.000–1.800 meter dengan pengeboran tujuh sumur produksi yang dihubungkan ke fasilitas Jangkrik. Sementara itu, proyek North Hub mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700–2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.