JAKARTA – Pada periode transisi energi, energi fosil seperti minyak dan gas bumi (migas) serta batu bara masih memiliki peran penting untuk dikembangkan sebelum energi yang lebih bersih tersedia. Minyak bumi masih menjadi energi utama untuk transportasi, sebelum digantikan dengan kendaraan listrik, serta gas bumi dapat dimanfaatkan untuk energi transisi sebelum energi baru terbarukan (EBT) 100% di pembangkit listrik.
Transisi energi merupakan proses panjang yang harus dilakukan oleh negara-negara di dunia untuk menekan emisi karbon yang dapat menyebabkan perubahan iklim. Kesepakatan dalam transisi energi bertujuan untuk menuju ke titik yang sama yaitu pemanfaatan energi bersih yang terus meningkat. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Diperkirakan peak emisi sektor energi Indonesia terjadi sekitar tahun 2039 sebesar 706 juta ton CO2e. Emisi berkurang secara signifikan setelah tahun 2040 mengikuti selesainya kontrak pembangkit fosil. Pada tahun 2060, emisi pada pembangkit adalah nol. Sementara tingkat emisi 2060 pada skenario NZE masih sebesar 401 juta ton CO2e yang berasal dari sisi demand, utamanya dari sektor industri dan transportasi.
Pemerintah terus mendukung peningkatkan produksi migas nasional. Pemerintah menargetkan produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari dan gas bumi 12 BSCFD pada tahun 2030.
Strategi yang dilakukan untuk peningkatan produksi dan cadangan migas adalah optimasi produksi lapangan eksisting, transformasi resources to production, mempercepat chemical EOR, serta eksplorasi secara massif untuk penemuan besar. Juga, penerapan Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS) untuk lapangan-lapangan migas.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengatakan terus berupaya menjaga produksi migas untuk menopang bauran energi nasional. SKK Migas harus memastikan decline rate bisa ditekan, idle fields direaktivasi, dan undeveloped discoveries dipercepat.
“Peran SKK Migas bukan memperlambat transisi, tapi memastikan transisi berjalan aman, realistis, dan tidak mengorbankan ketahanan energi,” katanya dalam talkshow yang digelar di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Ketua RESSED UI (Research Group on Energy Security for Sustainable Development – Universitas Indonesia), Ali Ahmudi, mengatakan kelangkaan minyak bumi memunculkan berbagai permasalahan berbagai sektor, seperti meningkatnya harga minyak, kebutuhan energj yang terus meningkat, serta cadangan minyak yang terus menurun.
Ia menjelaskan kebutuhan energi Indonesia pada 2025 diprediksikan akan mencapai 238,8 juta ton setara minyak (Tonne of Oil Equivalent/TOE) dengan skenario Business as Usual (BaU) akan meningkat menjadi 682,3 juta TOE pada 2050. Asumsi rata-rata pertumbuhan kebutuhan energi 4,9 %/tahun, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) moderat 5,6 %, pertumbuhan penduduk rata-rata 0,8 %/tahun.
“Potensi Indonesia terhadap energi terbarukan yang tersedia dalam jumlah yang besar, namun belum dapat di eksplorasi karena berbagai kendala, karena pengembangan energi terbarukan dan pemanfaatannya belum maksimal,” ujarnya.(RA)




Komentar Terbaru