JAKARTA – Kegiatan eksplorasi yang dilakukan KKKS ENI West Ganal kembali mencatatkan hasil positif. Sumur eksplorasi Maha-4 berhasil menemukan cadangan gas dengan potensi aliran yang cukup besar dan diharapkan dapat menopang produksi gas nasional.

Djoko Siswanto Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), mengungkapkan bahwa potensi produksi sumur Maha-4 cukup signifikan berdasarkan hasil analisis reservoir dan pengujian yang telah dilakukan.

“Berdasarkan analisa kemampuan batuan untuk mengalirkan gas dengan permeabilitas 140 miliDarcy dan interpolasi hasil test menggunakan teknologi XDT-DDT PT Halliburton, maka sumur ini berpotensi dapat mengalirkan gas sebesar ±180 MMSCFD, karena tekanan reservoar sangat tinggi (over pressure) hingga 6630 psi,” ujar Djoko kepada Dunia Energi, Jumat (13/3).

Dia menuturkan pengeboran sumur Maha-4 dilakukan pada akhir Desember 2025 dan dinyatakan selesai pada 5 Maret 2026. Sumur tersebut dibor hingga kedalaman 4.150 meter measured depth (MD) atau 2.323 meter true vertical depth (TVD) dengan target pada lapisan T-65.

Lapisan reservoir memiliki ketebalan sekitar 12 meter dengan radius sekitar 70 meter. Berdasarkan analisis, batuan reservoir memiliki permeabilitas rata-rata 140 miliDarcy, yang menunjukkan kemampuan batuan cukup baik dalam mengalirkan fluida hidrokarbon. Formasi batuan ini diperkirakan berasal dari umur Miocene.

Dalam proses pengujian produksi, operator menggunakan teknologi XDT-DDT yang memungkinkan evaluasi reservoir tanpa perlu melakukan pembakaran gas di anjungan lepas pantai.

“Pengetesan produksi gas menggunakan teknologi baru XDT-DDT (buatan PT Halliburton), sehingga tidak diperlukan pembakaran gas di platform anjukan lepas pantai. Pemanfaatan teknologi ini dinilai lebih aman dan tidak ada gas yang terbuang selama pengetesan produksi, meskipun memerlukan waktu yang sedikit lebih lama karena memerlukan analisis dan interpretasi,” kata Djoko.

Saat ini, proyek tengah memasuki tahap persiapan pengembangan dengan pemesanan sejumlah peralatan long lead item yang akan dipasang di kepala sumur untuk mengatasi tekanan reservoir yang sangat tinggi.

“Status saat ini sedang dipesan peralatan long lead item yang akan dipasang di kepala sumur/platform untuk mengatasi tekanan tinggi di well head saat gas diproduksikan agar keselamatan tetap terjaga dan anjungan lepas pantai tetap aman,” jelasnya.

Tekanan reservoir yang tinggi juga berdampak pada kebutuhan tambahan biaya penyelesaian sumur. “Completion sumur untuk mengatasi tekanan yang over pressure ini mengakibatkan adanya tambahan biaya completion sebesar 16 juta US$ pada tahun 2026,” jelas Djoko.

Meski memiliki potensi aliran hingga 180 MMSCFD, produksi gas dari sumur Maha-4 pada tahap awal diperkirakan akan dibatasi sekitar 100 MMSCFD karena keterbatasan fasilitas produksi yang tersedia saat ini.

“Meskipun sumur ini berpotensi mengalirkan gas sebesar 180 MMSCFD, namun karena keterbatasan fasilitas existing di kepala sumur maka akan diproduksikan maksimal 100 MMSCFD,” tuturnya.

Sumur eksplorasi Maha-4 ini diharapkan dapat menjadi salah satu penopang produksi gas untuk mengantisipasi penurunan produksi (decline) di masa mendatang sekaligus meningkatkan pasokan gas nasional. Adapun target produksi dari sumur ini diperkirakan paling lambat pada 2028, seiring dengan rencana renovasi fasilitas LNG Train E di Kilang Bontang milik PT Badak LNG yang saat ini masih menunggu penyelesaian.