JAKARTA – Perusahaan Mineral Nasional (Persero) (Perminas) dan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM), menandatangani Nota Kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), (16/2), yang menetapkan kerangka kerja untuk mengevaluasi potensi kolaborasi strategis terkait sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon dan potensi inisiatif rantai nilai hilir rare earth di Indonesia.
Kerja sama yang didukung Danantara Indonesia sebagai lembaga pengelola investasi strategis nasional ini disebut akan memperkuat integrasi hulu-hilir serta membangun rantai pasok rare earth yang tangguh dan berdaya saing global yang mencakup pengembangan sumber daya, pemrosesan, dan manufaktur lanjutan.
Rosan Roeslani, Chief Executive Officer Danantara Indonesia mengungkapkan fase berikutnya pertumbuhan industri Indonesia membutuhkan akses yang tangguh terhadap input strategis serta kemampuan untuk mengonversi input tersebut menjadi produk hilir yang berdaya saing global. “Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi tersebut dan mendukung pengembangan rantai nilai mineral kritis strategis yang berorientasi masa depan,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis (17/2).
Brian Yuliarto, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) menyebut kerja sama ink menandai fase baru dalam keterlibatan Indonesia di industri mineral kritis, termasuk rare earth elements.
“Kolaborasi dengan NEM mencerminkan meningkatnya kapasitas industri Indonesia serta kepercayaan mitra internasional terhadap potensi mineral kritis Indonesia. Melalui kemitraan ini, Indonesia bertujuan mendorong pengembangan industri dalam negeri sekaligus memperkuat partisipasinya dalam pasar mineral kritis global,” ujarnya.
MoU ini menetapkan kerangka kerja bagi para pihak untuk mengevaluasi keterkaitan hulu-hilir, termasuk potensi Indonesia berperan sebagai platform pemrosesan hilir, manufaktur, dan integrasi industri, sejalan dengan mandat Perminas, prioritas industri nasional, serta ketentuan regulasi yang berlaku.
Perminas adalah badan usaha milik negara Republik Indonesia yang memiliki mandat untuk mendukung tujuan strategis nasional terkait pengembangan, pengelolaan, dan industrialisasi hilir mineral strategis, termasuk rare earth elements dan mineral kritis lainnya.
Gilarsi Wahju Setijono, President Director (CEO) Perminas, menyampaikan pihaknya berkomitmen mendorong pencapaian tujuan strategis Indonesia di sektor mineral kritis dan industrialisasi hilir.
“MoU ini menciptakan jalur yang terstruktur untuk menilai peluang yang menghubungkan potensi sumber daya hulu dengan penciptaan nilai hilir, selaras dengan tata kelola yang kuat dan prioritas nasional jangka panjang,” ujarnya.
Material kritis seperti niobium (Nb) dan rare earth elements termasuk neodymium (Nd) dan praseodymium (Pr), yang merupakan input utama untuk magnet permanen berkinerja tinggi, serta heavy rare earth elements seperti dysprosium dan terbium yang meningkatkan performa magnet pada suhu tinggi, semakin esensial bagi industri modern dan ketahanan nasional.
Material-material ini menjadi komponen kunci bagi kendaraan listrik (EV) dan elektrifikasi yang lebih luas, energi terbarukan (termasuk turbin angin dan infrastruktur jaringan listrik), aplikasi kedirgantaraan dan pertahanan tingkat lanjut, serta berbagai penggunaan industri bernilai tinggi yang bergantung pada akses yang aman terhadap input kritis.
MoU ini membentuk Joint Working Group dengan mandat untuk menjalankan program kerja sama yang terstruktur dan dipercepat, termasuk pertukaran informasi secara segera, lokakarya teknis bersama, serta asesmen komersial yang terkoordinasi. Para pihak akan mengembangkan jalur pengembangan hulu dan hilir di sepanjang rantai nilai rare earth, termasuk pemisahan, pemurnian, produksi logam/paduan, dan manufaktur magnet permanen, dengan tujuan bersama menciptakan rantai pasok yang terintegrasi dan kompetitif dari sumber daya hingga produk magnet jadi.
Seiring dengan jalur kerja teknis tersebut, para pihak akan memulai negosiasi jalur cepat terkait potensi pembiayaan dan investasi strategis, termasuk partisipasi ekuitas dan/arau utang oleh Perminas dan/atau Danantara Indonesia di tambang Maboumine dan entitas proyek terkait, untuk menangkap manfaat penuh dari integrasi vertikal. Progres ini akan didukung oleh proses uji tuntas yang dipercepat serta tunduk pada persetujuan internal, ketentuan regulasi, dan negosiasi serta penandatanganan perjanjian definitif.
NEM merupakan pengembang dan investor mineral strategis yang didirikan di Abu Dhabi Global Market (ADGM). Perusahaan beroperasi di Republik Gabon melalui anak usahanya, Dusk Gabon S.A., yang memegang hak dan izin pertambangan terkait proyek Maboumine, yaitu sumber daya polimetalik yang mencakup niobium dan rare earth elements magnet bernilai tinggi (REE), dengan produk samping fosfat terkait.
NEM merupakan pengembang dan investor mineral strategis yang didirikan di Abu Dhabi Global Market (ADGM). Perusahaan beroperasi di Republik Gabon melalui anak usahanya, Dusk Gabon S.A., yang memegang hak dan izin pertambangan terkait proyek Maboumine, yaitu sumber daya polimetalik yang mencakup niobium dan rare earth elements magnet bernilai tinggi (REE), dengan produk samping fosfat terkait.
“Kami bergabung dengan Perminas untuk memulai kolaborasi yang memperkuat dan mendiversifikasi rantai pasok rare earth global yang kritis. Kami mengapresiasi visi nasional Indonesia dalam memajukan rantai nilai mineral kritis dan rare earth strategis, sebuah agenda yang semakin penting bagi transisi energi global, kepemimpinan teknologi, dan ketahanan pasokan,” kata Abduljabbar Alsayegh, President New Energy Metals Holdings Ltd.(RA)





Komentar Terbaru