JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mempercepat aktivitas eksplorasi berbagai wilayah operasi, sepanjang Oktober hingga Desember 2025.
Percepatan eksplorasi tersebut dilakukan oleh anak-anak usaha BRMS, di mana peningkatan kegiatan terlihat dari intensitas pengeboran, pengujian metalurgi, serta pengiriman ribuan sampel untuk analisis laboratorium.
Direktur dan Sekretaris Perusahaan BRMS, Muhammad Sulthon, menjelaskan seluruh aktivitas eksplorasi pada periode tersebut merupakan bagian dari program kerja yang telah disetujui dan dijalankan sesuai ketentuan regulator.
“Seluruh kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh anak usaha BRMS pada periode ini telah dilaporkan kepada Bursa Efek Indonesia dan dilaksanakan sesuai rencana kerja yang berlaku,” jelasnya dalam keterbukaan informasi, Jumat(9/1/2026).
Aktivitas eksplorasi terbesar dilakukan oleh PT Citra Palu Minerals (CPM) di proyek Poboya, Sulawesi Tengah.
Pada prospek River Reef–Watuputih, CPM melanjutkan pengeboran sumber daya dengan total 356 titik bor yang telah diselesaikan hingga akhir Desember 2025. Total kedalaman pengeboran mencapai 89.582,40 meter, dengan tambahan lima titik bor baru sepanjang periode laporan.
Biaya eksplorasi CPM pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar US$747.040, disertai pengiriman 1.765 sampel inti bor dan ratusan sampel batuan untuk analisis geokimia.
Di Gorontalo, PT Gorontalo Minerals (GM) melanjutkan eksplorasi di wilayah Tombulilato melalui pengeboran eksplorasi dan pengeboran sterilisasi.
Selama periode Oktober–Desember 2025, GM menambah tujuh lubang bor eksplorasi dengan total kedalaman 5.558,30 meter serta menyelesaikan 13 lubang pengeboran sterilisasi dengan total kedalaman 2.141,50 meter. GM juga mengirimkan ribuan sampel inti bor, batuan, dan tanah untuk analisis geokimia serta melanjutkan uji metalurgi tahap lanjutan, termasuk big column test dan estimasi sumber daya serta cadangan mineral di beberapa prospek.
Sementara itu, PT Dairi Prima Mineral (DPM) yang telah memasuki tahap operasi produksi melaporkan tidak adanya aktivitas eksplorasi baru selama periode laporan.
Perseroan mencatat rencana pengeboran lanjutan di prospek Lae Jehe dan area basecamp sebagai bagian dari pengembangan sumber daya ke depan.
Di Aceh, PT Linge Mineral Resources (LMR) memfokuskan kegiatan pada studi geoteknik dan metalurgi lanjutan di Proyek Abong.
Biaya eksplorasi LMR pada periode tersebut mencapai US$ 338.794. LMR juga mengirimkan ratusan sampel inti bor, batuan, dan tanah untuk analisis, serta memperoleh persetujuan akhir laporan studi kelayakan pada 28 November 2025.
Unit usaha lainnya, PT Suma Heksa Sinergi (SHS), melanjutkan eksplorasi dan delineasi sumber daya di wilayah Banten. SHS mencatat penyelesaian dua lubang bor dengan total kedalaman 670 meter serta satu lubang bor yang masih dalam tahap pengerjaan.
Aktivitas eksplorasi SHS turut disertai pengujian metalurgi pendahuluan, termasuk uji sianidasi, gravitasi, dan flotasi, serta pengiriman ratusan sampel inti bor untuk analisis lanjutan.
BRMS menyampaikan sejumlah hambatan eksplorasi di lapangan, antara lain aktivitas penambangan tanpa izin, tumpang tindih lahan, gangguan akses, serta kondisi force majeure seperti banjir dan longsor di beberapa wilayah.
BRMS menyatakan akan melanjutkan program eksplorasi sesuai rencana guna mematangkan data teknis dan sumber daya mineral di masing-masing proyek.(RA)




Komentar Terbaru