JAKARTA – Kenyataan pahit harus dihadapi PT Pertamina (Persero) khususnya dalam bisnis upstream atau hulu migas. Bagaimana tidak baru awal tahun alias bulan januari bisnis hulu Pertamina harus menelan kerugian yang jumlahnya tidak sedikit akibat anjloknya produksi minyak di blok Rokan.

Meskipun Pertamina tidak pernah mau membeberkan secara detail penurunan produksi di Rokan, namun pemerintah membuka data yang cukup mengejutkan karena hingga hampir tiga pekan total sekitar 2 juta barel minyak tidak dapat diproduksikan. Ini tentu sama saja pemasukan Pertamina berkurang sangat besar.

Kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di jalur Grissik – Duri pada awal tahun 2026 ternyata berbuntut panjang. Kebocoran gas yang pertama kali terjadi terdeteksi pada 2 Januari 2026 itu membuat Indonesia kehilangan produksi minyak total sebanyak 2 juta barel akibat tidak maksimalnya produksi dari blok Rokan.

“Pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun,” kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) disela rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1).

Dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Desember 2025 sebesar US$61,10 per barel maka Pertamina Hulu Energi (PHE) telah kehilangan pemasukan dari Rokan mencapai US$122,2 juta atau setara Rp2,03 triliun (kurs Rp16.885).

Apa yang terjadi di blok Rokan adalah pukulan berat tidak hanya bagi Pertamina tapi juga secara nasional, pasalnya blok Rokan merupakan salah satu tulang punggung produksi minyak nasional.

Kapasitas normal produksi minyak di Rokan dikisaran 150 ribuan barel per hari (bph) namun sejak 2 Januari 2026 produksi hanya dikisaran 60 ribu – 70 ribuan bph.