JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menyusun peta jalan atau road map penerapan E50 atau campuran etanol dengan BBM jenis gasoline. Dalam road map tersebut rencananya campuran etanol 10% akan dimulai pada tahun 2027. Saat ini Pertamina sebenarnya sudah memasarkan campuran etanol 5% secara terbatas di produk BBM-nya yang dikenal dengan Pertamax Green 95.

Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM, menjelaskan road map penerapan campuran etanol baru saja disepakati oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam sedang Dewan Energi Nasional (DEN). “Kan baru diputuskan dalam DEN kemarin. Nah, tugas kami sekarang adalah merancang dengan Ditjen Migas untuk merancang roadmap-nya gimana. Contoh, 2027 kita akan menerapkan E10. 2028 kita akan bangun E20, sampai ke depan,” kata Bahlil ditemui disela acara Donor Darah Kementerian ESDM, Senin (21/9).

Lebih lanjut Bahlil menegaskan bahwa penerapan E10 akan terus berkembang hingga paling tidak menjadi E50. Selanjutnya untuk mendukung program tersebut pemerintah kata dia memastikan bahwa bahan bakunya harus berasal dari dalam negeri. Untuk itu pemerintah akan menyusun rencana dan kebijakan yang bisa mengakomodir pemenuhan bahan baku tersebut. Target dalam road map yang sudah disusun juga harus memperhatikan kesiapan industri penunjang program tersebut.

“Kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tapi etanolnya diimpor dari luar, sama aja itu. Jadi kita pengin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri,” ujar Bahlil.

Dia mengatakan, apabila pengembangan E50 dapat direalisasikan dengan memanfaatkan bahan baku dan produksi dalam negeri, pemerintah menargetkan ketergantungan terhadap impor bensin jadi dapat ditekan. “Kalau ini mampu kita lakukan ke E50, insyaallah target kita, kita tidak lagi melakukan impor bensin yang jadi, produk jadi,” tegasnya.

Upaya pemerintah mengejar program E50 berkaca dari kesuksesan dalam program B50 yang mencampur biodiesel dengan solar. Keberhasilan pengembangan biodiesel tersebut, kata Bahlil, menjadi pijakan pemerintah untuk mencari alternatif lain melalui pengembangan bahan bakar berbasis etanol.

“Kita itu mencari solusi alternatif-alternatif energi di saat kondisi global yang tidak menentu. Hari ini tidak bisa kita menggantungkan harapan kita kepada negara lain, terutama energi. Maka berangkat dari keberhasilan kita dalam membangun biodiesel, sekarang kan kita sudah sampai dengan B50,” tegas Bahlil.